Semarang, JNcom – ”Buah jatuh tak jauh dari pohonnya” itulah sepenggal pepatah yang melukiskan kepribadian maupun perjalanan hidup seseorang seperti yang dialami Daniel Prio Dwi Atmoko, S.I.K, M. Pd dengan akhir jabatannya berpangkat Komisaris Besar Polisi. Pasalnya, Daniel jika merunut dari Bibit, Bobot, Bebet berasal dari lingkungan keluarga Polri.
Ketika ditemui di rumah pribadinya yang mencerminkan suasana kesederhanaan, lulusan Akademi Kepolisian 1991 ini secara blak – blakan mengungkapkan perjalanan kariernya di Kepolisian, dari menjabat Kapolsek, Satreskrim, Kapolres, hingga penugasannya menjadi orang nomor satu di Pusat Pendidikan Bimbingan Masyarakat di Banyubiru kabupaten Semarang.
Pria kelahiran Jakarta 1967 itu, meski dirinya sejak 2025 purna tugas sebagai pengemban Tribrata, namun ayah tiga anak itu tetap menjalankan pelayanan.
”Dulu ketika dinas di Kepolisian melayani Masyarakat, kini memasuki masa pensiun Melayani Umat jadi hidup adalah pelayanan tiada akhir,” ungkap Daniel dengan nada rendah.
Bertepatan hari Bhayangkara ke 80, Daniel mengenang perjalanan kariernya semasa dinas. Dari mengungkap aktor di balik pembunuhan di wilayah hukum Polda Jambi, hingga menghadapi masa aksi demo ketika ia menjabat sebagai Kapolres di Papua.
Memaknai usia ke-80, Kepolisian ke depan dituntut untuk lebih profesional, presisi serta menghilangkan kepentingan tertentu terlebih kepentingan pribadi agar citra Polri di tengah masyarakat tetap dicintai, dan Polri tetap mengedepankan landasan dasar sebagai Pelindung, Pengayom, dan Pelayan masyarakat agar warga merasa aman dan nyaman.
Menurut Daniel, Polisi yang notabene sebagai pengayom masyarakat dalam menghadapi aksi Demo tidak harus menurunkan satuan Dalmas, namun penyelesaian secara persuasif adalah pendekatan pribadi dengan mengedepankan keimanan seperti Tuhan tidak mengajarkan kekerasan namun Tuhan ajarkan kasih sayang.
Sebagai orang nomor wahid di tubuh Pusdikbimas, tentu Daniel punya seabrek pengalaman ketika bagaimana melakukan pendekatan di tengah masyarakat walau di daerah konflik sekalipun. Jurus selalu interaksi di tengah masyarakat tanpa membedakan Suku dan Agama ini sangat penting dimiliki.
Sementara itu Daniel cukup dikenal sebagai sosok Toleran. Pasalnya, meski ia umat Kristiani namun hubungan di tengah masyarakat tergolong sangat dekat bahkan di sebuah acara keagamaan ia masuk ke sebuah Masjid/Mushola duduk bersila di tengah para ulama baginya bukan suatu hal yang risih atau canggung meski dirinya (Daniel) sebagai Pengkhotbah di Gereja.
Memaknai definisi Toleran, menurut Daniel adalah saling menghargai keyakinan orang lain dan saling mengasihi antar sesama umat maka ketika rasa Toleran itu diterapkan tentu kondisi di tengah masyarakat tetap kondusif tanpa ada gesekan yang memicu konflik. (NANO)















