Jakarta, JNcom – Dalam rangka memperkokoh persatuan dan kesatuan menyongsong lima abad Jakarta sebagai kota budaya dan kota global, Pengurus Badan Musyawarah (Bamus) Betawi bersama ormas-ormas Betawi mengadakan kunjungan ke tempat cagar budaya Museum MH Thamrin di Jakarta Pusat, Sabtu (24/10/2026).
Sekjen Bamus Betawi, Anas Ma’ruf mengatakan, kunjungan ke tempat bersejarah dan pertemuan bersama ormas-ormas Betawi ini untuk memperkuat literasi kita terhadap sejarah yaitu tokoh pahlawan nasional MH Thamrin.
Jika mengingat perjalanan MH Thamrin, kata Anas, perjuangan menjadi inspirasi bagi Presiden Soekarno dalam mengarsiteki negara kita. Menurutnya, yang membanggakan adalah MH Thamrin merupakan tokoh asal Betawi.
“Melalui rangkaian kegiatan ini, kita ingin memperkuat literasi terhadap sejarah. Kita berharap melalui kunjungan ke Museum MH Thamrin ini kita dapat menjajaki pemikiran nyata dari beliau yang bisa diaktualisasikan. Bamus juga ingin menghidupkan kembali museum ini sebagai saksi sejarah hidup kita,” ujar Anas Ma’ruf.
Anas berpendapat bahwa pahlawan MH Thamrin merupakan bapaknya perlawanan terhadap ketidakadilan. “Relevansinya untuk saat ini adalah kita mesti merawat sejarah beliau sebagai identitas orang Betawi,” kata Anas.

Anas juga berharap agar perjuangan MH Thamrin dapat dijadikan sebagai energi positif untuk memiliki jiwa semangat persatuan dan kesatuan. Selain itu, perjuangan beliau juga harus menjadi motivasi untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat.
Untuk diketahui, Museum MH. Thamrin merupakan salah satu Cagar Budaya yang berada di Kota Administrasi Jakarta Pusat. Penetapannya berdasarkan Keputusan Gubernur KDKI Jakarta Nomor 475 Tahun 1993, pada lampiran Jakarta Pusat Nomor 42 dengan nama Gedung MH Thamrin.
Awalnya, bangunan museum ini dimiliki oleh orang Belanda bernama Meneer de Haas dan digunakan sebagai tempat penyimpanan buah-buah impor dari Australia dan juga sempat menjadi tempat pemotongan hewan. Bangunan yang didirikan pada awal abad ke-20 dan bergaya Indis ini akhirnya dibeli oleh MH Thamrin pada tahun 1927. Tujuan pembeliannya adalah untuk digunakan sebagai tempat pertemuan, kegiatan organisasi, dan tempat pendidikan yang diadakan oleh MH Thamrin dan masyarakat.
Sejalan dengan tujuan tersebut, beberapa kali peristiwa bersejarah terjadi di bangunan ini. Beberapa peristiwa yang tercatat adalah kegiatan perayaan 10 tahun Voetball Indonesian Jacatra (VIJ), pertemuan organisasi Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI), pertemuan Partai Indonesia Raya (Parindra), pertemuan Pemuda Kaum Betawi, kongres Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dipimpin oleh Ir. Soekarno, kongres Persatuan Arab Indonesia, kongres Partai Rakyat Indonesia, dan’ kongres Rakyat Indonesia pertama. Hal ini pula yang menyebabkan bangunan ini dikenal sebagai gedung permufakatan.
Sampai pada akhirnya bangunan ini pertama kali ditetapkan sebagai gedung bersejarah pada tahun 1972. Selanjutnya pada tanggal 11 Januari 1986, Gubernur DKI Jakarta R. Soeprapto meresmikan bangunan ini menjadi Museum MH. Thamrin. Sesuai dengan namanya, museum ini memberikan informasi tentang MH Thamrin, mulai dari kehidupan sampai dengan sepakterjangnya bagi kemerdekaan Indonesia.
Berdasarkan sejarahnya, bangunan ini memiliki nilai penting bagi Bangsa Indonesia, Tidak hanya itu, bentuk bangunan yang khas dan mewakili gaya pada masanya juga menjadi satu nilai penting tersendiri, karena ciri khas dari Gaya Indis adalah perpaduan gaya kolonial dengan gaya lokal. Selain itu, fakta bahwa bangunan ini dimiliki oleh MH Thamrin dan digunakan sebagai tempat untuk mencapai kesepakatan, menjadi simbol dari jati diri bangsa yang demokrasi, musyawarah, dan guyub. (my)















