Rencana proyek tenaga panas Bumi Menuai Kecaman Sejumlah Elemen

Semarang, JNcom – Kabupaten Semarang dan Kendal sesuai Rencana pemerintah pusat akan dijadikan titik lahan untuk tenaga panas bumi yang diharapkan untuk menyuplai Jawa – Madura dan Bali menuai banyak sorotan tajam dari berbagai elemen masyarakat. Curah Pikir Penolakan terhadap rencana pengembangan proyek panas bumi (geothermal) di kawasan Gunung Ungaran dan sekitar situs Candi Gedong…

Avatar admin

by

10 menit

Read Time

Semarang, JNcom – Kabupaten Semarang dan Kendal sesuai Rencana pemerintah pusat akan dijadikan titik lahan untuk tenaga panas bumi yang diharapkan untuk menyuplai Jawa – Madura dan Bali menuai banyak sorotan tajam dari berbagai elemen masyarakat.

Curah Pikir Penolakan terhadap rencana pengembangan proyek panas bumi (geothermal) di kawasan Gunung Ungaran dan sekitar situs Candi Gedong Songo
Penolakan terhadap Geothermal Gunung Ungaran pembangunan Pembangkit listrik Tenaga Panas Bumi. Kali ini, sejumlah masyarakat budaya, paguyuban pelestari budaya, pemerhati lingkungan, serta warga yang berdomisili di kawasan Kabupaten Semarang menyatakan sikap tegas menolak proyek tersebut.

Sebagai wujud empati lingkungan , Rabu (2/9/2026) sejumlah element menggelar Deklarasi yang berlangsung kondusif. Kegiatan diwarnai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya serta lagu-lagu nasional, sebagai bentuk seruan agar pemerintah mempertimbangkan aspek lingkungan dan kelestarian situs budaya dalam setiap rencana pembangunan.

Sejumlah tokoh budaya dan pemerhati lingkungan dari berbagai daerah turut hadir, di antaranya dari kota Salatiga, Ambarawa, Blora, Kendal, Ungaran, Semarang, Pemalang dan sejumlah wilayah lainnya.

Miko Alfian yang di temui dilapangan mengatakan , masyarakat budaya memiliki tanggung jawab untuk menjaga keberadaan situs Candi Gedong Songo yang dinilai memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi.

Menurutnya, kawasan Gedong Songo bukan hanya merupakan peninggalan sejarah, tetapi juga menjadi salah satu tujuan wisata yang selama ini dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah hingga wisatawan mancanegara.

“Kita sebagai masyarakat budaya akan mempertahankan dan melindungi situs Candi Gedong Songo dari berbagai ancaman yang dapat merusak kelestariannya. Situs ini merupakan peninggalan leluhur Nusantara yang memiliki nilai sejarah sangat tinggi,” ujarnya.

Ia menambahkan jika proyek tetap dilaksanakan akan muncul kekhawatiran masyarakat apabila aktivitas pengeboran panas bumi dilakukan di kawasan tersebut. Masyarakat, kata dia, khawatir muncul dampak terhadap lingkungan dan kawasan permukiman di sekitar Gunung Ungaran.

“Kami khawatir apabila proyek tersebut tetap dilaksanakan akan menimbulkan risiko terhadap lingkungan, seperti bencana alam, kerusakan kawasan wisata maupun ancaman terhadap keberadaan situs Candi Gedong Songo,” katanya.

Sementara itu, pemerhati lingkungan Rahman Kendalisodo menyampaikan sikap penolakan serupa. Ia meminta pemerintah tidak hanya mempertimbangkan aspek ekonomi dalam rencana pengembangan energi panas bumi, tetapi juga memperhatikan potensi risiko terhadap masyarakat dan lingkungan.

Ia bahkan mengaitkan kekhawatiran tersebut dengan pengalaman bencana lumpur Lapindo. Namun, pernyataan tersebut merupakan kekhawatiran dan pandangan yang disampaikan dalam deklarasi, bukan kesimpulan bahwa proyek geothermal di Gunung Ungaran pasti akan menimbulkan kejadian serupa.

“Kami hanya ingin hidup damai dan tenang di bumi Nusantara ini. Untuk apa mengejar kekayaan apabila masyarakat nantinya menjadi korban. Pemerintah harus mempertimbangkan keberadaan situs leluhur dan keselamatan masyarakat dalam mengambil keputusan,” tegas Rahman.

Menurutnya, keberadaan Candi Gedong Songo harus menjadi perhatian serius sebelum pemerintah maupun pihak terkait mengambil keputusan mengenai kegiatan pengeboran panas bumi di kawasan Gunung Ungaran.

“Mari kita selamatkan lingkungan dan warisan budaya untuk anak cucu kita di masa mendatang,” imbuhnya.

Kekhawatiran terhadap dampak lingkungan juga disampaikan Sutikno, pemerhati Tosan Aji Kabupaten Semarang. Ia menyoroti kemungkinan perubahan kondisi sumber daya air apabila aktivitas pengeboran dilakukan.
Menurutnya , masyarakat perlu mendapatkan kajian yang transparan mengenai kemungkinan dampak proyek terhadap ketersediaan air, termasuk bagi wilayah yang berada di sekitar Gunung Ungaran hingga Kota Semarang.

“Jangan sampai keberadaan proyek justru berdampak terhadap sumber daya air. Karena persoalan air bukan hanya menyangkut masyarakat di sekitar lokasi, tetapi juga dapat berkaitan dengan wilayah yang lebih luas,” jelasnya.

Hal senada juga di sampaikan budayawan setempat. Suparmin menilai rencana pengeboran di kawasan Gunung Ungaran harus dikaji secara sangat hati-hati. Ia menyebut adanya rencana pengeboran hingga kedalaman sekitar 2.000 meter sebagai salah satu hal yang membuat masyarakat khawatir.

“Gunung Ungaran merupakan bagian dari alam yang harus kita jaga. Jangan sampai pembangunan justru menimbulkan risiko bagi masyarakat dan generasi mendatang. Kami meminta agar rencana pengeboran geothermal di kawasan ini dikaji secara serius,” ujarnya.

Suparmin menambahkan, apabila terdapat potensi risiko terhadap lingkungan, sumber air, situs budaya maupun keselamatan masyarakat, pemerintah diminta tidak terburu-buru memberikan izin atau melanjutkan kegiatan sebelum seluruh aspek tersebut benar-benar dipastikan aman

Sementara itu, Bambang Wilis seorang pencinta alam dan juga pendaki gunung menyampaikan menolak terhadap adanya eksploitasi sumber daya alam utamanya pengeboran geothermal gunung Ungaran perwakilan dari Subur dari Desa darum Gedong Songo yang menyampaikan untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi apakah harus dilaksanakan di kawasan gunung Ungaran yang notabene berdekatan dengan situs cagar budaya janji Gedong Songo.

Tujuannya utamanya mulia tetapi nanti dalam prakteknya akan banyak dampak yang merugikan bagi masyarakat sekitar Candi Gedong Songo yang kedua menolak karena Candi Gedong Songo merupakan warisan leluhur yang sudah dilindungi dengan undang-undang nomor 11 tahun 2010 tentang undang-undang cagar budaya yang ketiga di Candi Gedong Songo merupakan sumber mata air alami di mana banyak warga masyarakat yang memanfaatkan sumber mata air tersebut.

Jika dilaksanakan pengeboran tentunya dampaknya dalam jangka panjang juga akan menyebabkan berkurangnya mata air alami atau bahkan sampai kekeringan dan tentunya warga masyarakat setempat yang akan mengalami kerugiannya dan yang keempat dalam bidang pertanian masyarakat sekitar lereng gunung Ungaran atau Candi Gedong Songo mata pencahariannya berasal dari mengandalkan sektor pertanian di mana menanam sayur-mayur yang membutuhkan sumber mata air yang berlimpah dan juga kesuburan dari lereng gunung Ungaran.

Pemangku adat Gedong Songo Supoyo menyampaikan pendapat bahwa dengan adanya pembangunan geothermal pengeboran gunung Ungaran akan mengakibatkan ketidakseimbangan alam lingkungan fisik dan juga lingkungan budaya, ekonomi dan sosial yang ada bagi masyarakat di sekitar lereng gunung Ungaran. Selain itu masyarakat Banyu Kuning juga menolak karena berada langsung di bawah gunung Ungaran yang tentunya jika mengalami kegagalan yang pertama kali mengalami kegagalan adalah warga sekitarnya.
Yang apabila pembangunan dilaksanakan memaksakan tentunya juga akan berpengaruh terhadap aliran sungai yang melintasi kawasan gunung Ungaran sekitarnya padahal sumber mata air gunung Ungaran sangat dibutuhkan oleh warga di sekitar Kabupaten Semarang.

Noor Hayati, pegiat budaya dan pemerhati situs budaya dan lingkungan hidup dan juga ikut kelompok pemangku adat Gedong Songo, merasa prihatin dengan adanya pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi yang akan dilaksanakan wacananya di gunung Ungaran dan berkaitan dengan Candi Gedong Songo tentunya juga akan merusak situs struktur Candi Gedong Songo dan juga gunung Ungaran sendiri dan tentunya yang akan mengalami kerugian adalah warga masyarakat di sekitarnya selain itu juga akan menjadi kendala bagi situs cagar budaya Candi Gedong Songo yang merupakan peninggalan peradaban pada masa Hindu di lereng gunung Ungaran dampaknya adalah kita tidak akan bisa memberikan warisan kepada generasi muda atau anak cucu kita. Dengan adanya pengeboran geothermal gunung Ungaran. Adanya proyek Geothermal juga akan merugikan petani dan pedagang yang akan terancam mata pencahariannya di kawasan lereng gunung Ungaran

Tokoh lain seperti Suwarsono dari Kandang Gunung Pati menyampaikan bahwa masyarakat kurang lebih 2 000 mengandalkan air minum dari Tuk Mudal yang notabene berasal dari gunung Ungaran yang semenjak dibangun sejak 11 tahun 1918 mengandalkan untuk Tuk mudal dengan PDAM ada 21 sumur atau tuk tentunya dengan adanya pengeboran geothermal di Candi Gedong Songo kawasan Candi Gedong Songo atau gunung Ungaran juga merupakan kesalahan Karena tentunya juga akan berdampak mempengaruhi sumber air atau jumlah debit air dari gunung Ungaran yang tentunya juga akan mempengaruhi kehidupan masyarakat di Kabupaten Semarang.

Tokoh berikut dari Mlilir Bandungan masyarakat mengenal dengan Pak Bokir yang mengatakan 90% menolak adanya rencana geothermal di gunung Ungaran yang tentunya dampaknya mempengaruhi warga sekitarnya dan tentunya melanggar undang-undang nomor 11 tahun 2010 tentang cagar budaya yang tentunya akan dikatakan sebagai cacat hukum( perundang-undangan disampaikan oleh Pak Dadang dari Sumowono yang juga menolak adanya geothermal gunung Ungaran

Perwakilan dari wilayah Banyubiru juga menolak adanya pengeboran pemanasan yang mengatakan gunung merawan bagaimana tugas kita untuk merawat gunung Ungaran mewarisi tanah dan tentunya dengan adanya pembangunan geothermal akan mempengaruhi dengan kurangnya kesadaran kurangnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tentunya juga akan mempengaruhi kekayaan hayati di lereng gunung Ungaran sehingga mempengaruhi bagi generasi muda yang akan datang tidak akan bisa mempelajari ilmu pengetahuan alam dan juga merawat bumi Gunung Ungaran seperti yang kita alami saat ini Agus Apriyanto seorang pendeta juga menyampaikan bahwa adanya situs cagar budaya Candi Gedong Songo merupakan tinggalan peradaban dari kerajaan yang tentunya peninggalan dihubungkan dengan peninggalan ratu Sima sebagai sejarah betapa luhurnya bangsa Indonesia yang sudah mempunyai ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga bisa memberikan peninggalan yang demikian megah.

Lontaran statmen yang sama juga di sampaikan Steven. Dikatakan kesadaran akan adanya konservasi alam sehingga saat ini kita sibuk kita mempunyai kesadaran untuk mengadakan reboisasi penghijauan di sana-sini sementara ada pihak-pihak yang kurang memperhatikan atau tidak peka tidak mempunyai kepedulian bahkan justru akan mengadakan geothermal di gunung Ungaran hal ini tentunya juga akan merugikan bagi kita yang sudah dari awal mengadakan kesadaran menggunakan kesadaran tentang adanya konservasi alam lingkungan hidup.

Pemerhati sejarah ada Derry Aditya menyampaikan bahwa masih banyak situs-situs yang tersembunyi yang belum muncul di kawasan gunung Ungaran sehingga menolak pembangunan geothermal di gunung Ungaran.

Ibu Dimas dari pemerhati lingkungan yang biasanya bekerjasama dengan pemerintah menolak adanya geothermal di gunung Ungaran dan bersedia mengkawal untuk pendekatan sampai dengan konsultan pemerintah bagaimana untuk kebaikan lingkungan hidup gunung Ungaran dan sekitarnya

Penolakan selanjutnya dari kang Midun yang seorang pencinta alam dan suaka pendaki gunung yang menolak adanya geothermal di gunung Ungaran belajar dari kasus Dieng di mana jalur pengeboran tol kayangan juga berdampak kekeringan bagi masyarakat pedesaan Dieng di sekitarnya jika kita mendatangi warga masyarakat bukan untuk wisata tapi kita mendatangi ke desa-desanya kita akan menjumpai betapa warga sudah merasakan dampak dari adanya pengeboran geothermal di wilayah Dieng yaitu dampaknya kekeringan di lahan-lahan sektor pertanian mereka berdasarkan data dari PLN Jawa Tengah DIY pada tahun 2025 di Jawa Tengah memiliki 6400 megawatt sedangkan yang dikonsumsi adalah 4200 megawatt waktunya untuk pengeboran Pembangkit listrik Tenaga Panas Bumi belum dibutuhkan masih ada sisa. Adanya Geothermal Gunung Ungaran kurang tepat dan tidak bijaksana.

Tokoh selanjutnya adalah babe Dipo yang dikenal dengan nama lainnya adalah Nyonyo solidaritas gunung Ungaran menolak dengan adanya geothermal di gunung Ungaran karena akan berdampak bagi sumber daya alam masyarakat sekitar gunung Ungaran dari si boli singorojo boja ada Limbangan ada kesatrio menolak juga adanya geometral di lereng gunung Ungaran karena kawasan Siboli atau Singorojo Boja dan Limbangan mengandalkan sektor air minum berasal dari air pegunungan gunung Ungaran, memiliki air yang sumber air mata air yang melimpah kemudian juga pertanian yang sangat subur dan semuanya menolak adanya pembangunan geothermal

Dengan adanya pembangkit listrik tenaga panas bumi tentunya akan merusak lingkungan alam di sekitar kita kalau memang hanya untuk menghasilkan panas bumi dibangun untuk pembangkit listrik tenaga panas bumi kenapa tidak diambil dari Gunung Merapi benar-benar panas dibandingkan dengan Gunung Ungaran yang subur tingkat kesuburannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat terutama di bidang lahan pertanian dan juga sumber mata air alami yang menghidupi masyarakat di Kabupaten Semarang dan bahkan sampai ke puja dan Kendal tokoh selanjutnya adalah Pak ito yang mencintai gunung Ungaran sebagai alam yang kaya sumber daya alam dan warisan leluhur adanya kepentingan kapitalis tentunya hanyalah untuk kemakmuran bagi mereka yang berkepentingan sedangkan bagi masyarakat bawah tidak perlu merusak dengan sumber daya alam karena tentunya jika terjadi pengeboran juga akan mengeluarkan gas-gas yang beracun yang kemungkinan kalau ada kegagalan yang mengalami pertama kali akibat dampak negatifnya adalah masyarakat yang tinggal di sekitar gunung Ungaran harus ditunjukkan dari tujuan pengeboran secara transparan apakah yang dihasilkan menguntungkan pihak masyarakat setempat atau hanya untuk kepentingan golongan atas apakah dampak kerusakan alam bagi masyarakat sekitar juga sudah dipikirkan sekian tahun yang akan datang dampaknya akan berakibat fatal apakah pemerintah atau negara bersedia menanggung akibat dari kerusakan sumber daya alam yang ada bahkan jika masyarakat sekitar gunung Ungaran yang terjadi tokoh lainnya adalah ada Pak kribo dari Semarang bawah perwakilan dan juga dari masa ke Blora menyampaikan jika adanya geothermal gunung Ungaran perlu adanya jejaring komunikasi karena ternyata bukan hanya masyarakat warga Kabupaten Semarang atau gunung Ungaran yang menolak adanya geothermal gunung Ungaran tetapi masyarakat kebanyakan pada umumnya menolak dan bergerak terpanggil untuk menyatukan energi positif menolak adanya pembangunan geothermal di kawasan gunung Ungaran dan 1perwakilan dari Kemambang Puwono Banyu Biru ada Johan menyatakan menolak geothermal karena daerah kawasan banyu Biru yang sudah mengalami pengeboran pun juga menolak karena dampaknya dan juga segala sesuatu yang akan segera terbengkalai Tidak ada kelanjutannya sementara kehidupan masyarakat tetap mengandalkan dari sektor pertanian tentunya dampak-dampak demikian berakibat akan terhadap perekonomian warga masyarakat setempat dan imbasnya penghasilan masyarakat setempat juga akan berkurang atau bahkan hilang jika di kemudian hari akan mengalami kegagalan dari adanya pengeboran. (NANO)

About the Author

About the Author

Easy WordPress Websites Builder: Versatile Demos for Blogs, News, eCommerce and More – One-Click Import, No Coding! 1000+ Ready-made Templates for Stunning Newspaper, Magazine, Blog, and Publishing Websites.

BlockSpare — News, Magazine and Blog Addons for (Gutenberg) Block Editor

Search the Archives

Access over the years of investigative journalism and breaking reports