Salatiga, JNcom – Kota Salatiga yang dikenal sebagai kota Toleran dan kota tertua di Indonesia, selain menyimpan segudang sejarah juga warganya hidup guyub-rukun dengan mengubur perbedaan Suku dan Agama.
Kota yang memiliki 4 Kecamatan dan 23 Kelurahan serta jumlah penduduk dikisaran 200 ribu jiwa ini berpotensi menjadi titik perputaran perekonomian. Pasalnya Salatiga letak geografis diapit Kabupaten Semarang serta Boyolali.
Disisi lain, Salatiga yang diapit Kabupaten Semarang dan Boyolali tersebut secara turun-temurun memiliki makanan khas yang cukup dikenal yaitu Enting – enting Gepuk serta Tumpang Koyor yang hingga saat ini masih eksis di tengah masyarakat Salatiga.
Dalam pekan terakhir ini, awak media singgah di kota Salatiga. Di pagi hari dengan menghirup udara sejuk sengaja jalan-jalan menelusuri hingga lorong kota Salatiga. Di tengah perjalanan melintas di jalan Monginsidi ada yang menyita perhatian, yaitu warung makan Pecel ”Budhe Ayu“
Warung makan yang menjadi ikonnya adalah ”Nasi Pecel” yang dilengkapi dengan aneka gorengan hangat. Warung yang telah berdiri 2 tahun lalu itu banyak diminati dari berbagai kalangan. Selain harga relatif terjangkau juga menggugah selera makan.
”Saya mengajak ibu – ibu untuk melakukan kegiatan yang menghasilkan berikut memberdayakan UMKM supaya perekonomian rumah tangga makin menguat dengan otomatis meningkatkan kesejahteraan dalam penguatan pangan,” ujar Budhe Ayu.
Lebih lanjut Budhe Ayu menambahkan , usaha warungnya menjadi langganan dari berbagai kalangan. Bahkan dalam pantauan awak media mereka (penjaja) lebih didominasi oleh kalangan Mahasiswa.
Untuk datang menikmati nasi Pecel tidak perlu merogoh Kocek dalam dalam. Karena Budhe Ayu hanya cukup membandrol harga cuma 5 ribu/porsi nasi Pecel. Harga itu sasarannya agar terjangkau bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah disaat perekonomian sedang lesu. (NANO)











