Nusantara

Blumbang Biru Banyubiru, Warisan Budaya yang Perlu Dilestarikan

×

Blumbang Biru Banyubiru, Warisan Budaya yang Perlu Dilestarikan

Share this article

Jateng, JNcom – Kabupaten Semarang yang memiliki 19 Kecamatan terdapat 208 desa, 27 Kelurahan dengan luas 1.019.27 Km tergolong wilayah yang cukup luas dibanding Kabupaten lain yang ada di Jawa Tengah

Secara geografis, Kabupaten Semarang banyak menyimpan nilai-nilai sejarah budaya yang patut dilestarikan dari generasi ke generasi.

Selain Candi Gedong Songo yang menjadi “icon” cagar budaya, Kabupaten Semarang juga memiliki puluhan Situs purbakala yang berada di berbagai Kecamatan.

Sebut saja Blumbang Biru yang berada di dusun Kauman desa Kebondowo. Banyubiru adalah sebuah Blumbang atau Sendang yang memiliki sejarah di era Kerajaan. Di area yang tidak lebih dari 300 meter itu selain Blumbang , juga terdapat sejumlah batu yang tercecer di sekitar Blumbang.

Salah satu tokoh sejarah dr H Anis Supriyadi menuturkan, konon ketika Joko Tingkir berguru kepada Ki Ageng Banyubiru di Blumbang, Joko Tingkir diceritakan mandi atau dijamas oleh Ki Ageng Banyubiru di Blumbang Biru yang kini memiliki kedalaman 7 meter dengan diameter 6 meter.

“Keberadaan Blumbang Biru diprediksi di abad 7 – 8, namun masuk dalam catatan di abad ke 10,” ungkap dr Anis.

Ditambahkan, pihak pemerintahan desa Kebondowo pada 2020 telah merevitalisasi Blumbang Biru, dikerjakan secara swakelola dengan menggunakan Dana Desa.

Masih menurut dr Anis, selama 1 – 2 dasa warsa belakangan ini Blumbang Biru banyak dikunjungi oleh sejumlah warga dari berbagai daerah. Sementara untuk warga di lingkungan Banyubiru tiap menjelang jatuh pada 1 Syuro warga mengadakan Kirab Budaya dengan sebelumnya mengambil atau Jamasan di Blumbang Biru.

Selain acara Kirab yang menjadi agenda Tahunan, juga ada Jamasan Pusaka Kabupaten yang menjadi pemikiran dan renungan.

Sementara itu, Jamasan mestinya dilakukan di lokasi Blumbang Biru. Usai penjamasan diboyong ke Kabupaten untuk didudukkan. Jadi Blumbang hanya memvasilitasi tempat.

Ditempat terpisah, Nurhayati SPd sebagai pegiat Budaya menjelaskan, Sendang Biru sudah menjadi kebiasaan setiap kali ada pertunjukan wayang kulit seorang Dalang yang akan pentas selalu mengambil air dari Sendang Biru. Air sendang biru tersebut dipercaya mampu memberikan aura positif dalam setiap pementasan atau pagelaran Wayang.

“Beberapa tahun yang lalu saya datang ke Blumbang Biru ketika itu belum direnovasi dan sekarang atas inisiatif warga masyarakat setempat dibangun untuk dijadikan tempat wisata religi” ungkap Nurhayati

Sendang Biru, lanjutnya, pada malam-malam tertentu banyak didatangi pengunjung dari berbagai kota di sekitar Banyubiu.

Harapan ke depan semoga dengan adanya kesadaran warga serta dukungan pemerintah dalam kebersamaan untuk membangun dan memperbaiki sendang Biru seiring sejalan dengan ilmu pengetahuan dan juga religi spiritual, sehingga tetap dapat melestarikan nilai-nilai budaya sebagai warisan leluhur nusantara. (NANO)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *