Kota Bekasi, JNcom – Matahari belum tinggi ketika langkah-langkah pertama menyentuh aspal Kota Bekasi. Bukan demo. Bukan kampanye. Yang berlari pagi itu adalah rindu yang dikemas jadi fun run. Rindu kampung halaman yang dibawa merantau, lalu ditumpahkan dalam keringat dan tawa di Halal Bihalal Lamahu 2026, di hari Minggu pagi 10 Mei 2026, akhir pekan lalu .
Lamahu bahasa Gorontalo: Huyula Heluma lo Hulondalo yang artinya: Gotong royong negeri Gorontalo. Nama yang hari itu tak hanya jadi spanduk, tapi jadi napas. Di tanah rantau, warga Gorontalo merajut “Harmoni Dalam Keragaman”. Tema yang tak sekadar ditempel di panggung, tapi ditubuhkan: seni Gorontalo berdampingan dengan Betawi dan Sunda, dari pagi sampai jelang sore.
Tiga Budaya Satu Panggung
Panggung di Gedung Olahraga Bang Yan Stadion Chandrabaga Bekasi jadi saksi. Lenggang tari Betawi menyapa hentak Polopalo Gorontalo. Kacapi Sunda bersahutan dengan petikan gambus. Di bawahnya, anak-anak mencatat gerakan. Orang tua mengangguk, mengingat kampung. Lidah Bekasi mencicipi ilabulo dan binthe biluhuta, sambil tak lupa nyolek kerak telor.
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menyebut _fun run_ Lamahu sebagai simbol keberagaman. “Tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan Kota Bekasi semakin diminati sebagai kota yang nyaman untuk tinggal maupun berinvestasi,” katanya. Kalimat pejabat, tapi hari itu ia dibungkus peluh warga yang kompak berlari.
Di sampingnya, Wakil Wali Kota Abdul Harris Bobihoe hadir bersama istri, Wuri Handayani. Bagi Lamahu, Harris bukan sekadar wawali. Ia putra daerah. Darah Gorontalo yang kini mengabdi di tanah Patriot. “Menjadi sebuah kehormatan Kota Bekasi, pada hari ini menjadi tuan rumah kegiatan Lamahu, ajang untuk saling mengenal budaya, kuliner dan hal menarik lainnya,” ujar Harris.
Bukan Sekadar Maaf-Maafan
Halal bihalal, kata Harris, adalah momentum. “Wujud bahwa masyarakat di Kota Bekasi memiliki semangat toleransi yang kuat, semangat untuk saling menghargai dan saling mendukung dalam kebaikan.” Ia mengajak merawat nilai luhur. Sebab bangsa ini, katanya, direkatkan oleh rajutan harmonisasi.
Sekretaris Jenderal Lamahu, Wahyudin Lihawa, mengiyakan. Bagi perantau, halal bihalal bukan seremoni setahun sekali. Ia jangkar. “Momentum saling kenal budaya dan memperat tali silaturahmi sebagai harmonisasi dalam bermasyarakat,” tegasnya.
Dan mengapa Bekasi? Wahyudin tak menutup bangga: “Disamping merasa bangga dengan adanya putra daerah yang menjadi Wakil Walikota Bekasi yakni Bapak Abdul Harris Bobihoe.” Rumah kedua jadi panggung, karena ada anak rumah yang pulang membawa nama baik.
*Ekonomi yang Tumbuh dari Silaturahmi*
Ketua Umum Lamahu, Fadel Muhammad, datang bersama jajaran. Di antara tenda kuliner dan stan UMKM, silaturahmi berubah jadi peluang. Ada transaksi. Ada jejaring. Ada anak muda Gorontalo yang kenalan dengan pengusaha Betawi. Ada ibu-ibu Sunda yang pesan karawo untuk seragam pengajian.
Inilah wajah halal bihalal yang tak selesai di maaf. Ia menetes jadi ekonomi. Jadi diplomasi budaya. Jadi bukti bahwa di perantauan, identitas tak harus luntur. Ia justru bisa jadi jembatan.
Bekasi, Rumah untuk Semua Nama
Jelang sore, acara usai. Tapi harmoni tak punya jam bubar. Ia tinggal di ingatan anak yang hari itu pertama kali lihat tari Dana-Dana. Ia tinggal di koneksi WhatsApp pengusaha kuliner yang baru bertukar nomor. Ia tinggal di dada perantau yang merasa: Bekasi ini rumah juga.
Di kota yang sering bising oleh klakson dan proyek, Minggu 10 Mei itu Bekasi memilih merayakan. Merayakan bahwa berbeda itu bukan alasan curiga. Bahwa _fun run_ bisa jadi bahasa pemersatu. Bahwa Lamahu, Sunda, dan Betawi bisa duduk satu tikar, ketawa, dan pulang dengan perut kenyang serta hati lapang.
Sebab harmoni, kalau dirawat, tak kenal musim. Ia tumbuh di mana saja, asal ada yang mau memulai. Dan Lamahu sudah mulai, dari Bekasi, untuk Indonesia. (Iwan Y)















