Jakarta, JNcom – Young Ambassador Agriculture sekaligus CEO Sumber Urif Farm (SUFAM), Gunawan Wibisono, mengatakan bahwa untuk membangun usaha tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar, melainkan dari potensi yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, ia mengajak generasi muda untuk tidak ragu terjun ke dunia pertanian.
Menurut Gunawan, ditengah pesatnya teknologi digital, media sosial kerap menampilkan kisah-kisah bisnis yang spektakuler. Namun bagi anak muda, langkah yang paling realistis adalah memulai usaha dari potensi yang sudah dimiliki keluarga atau lingkungan sekitar.

“Kalau orang tua punya usaha pertanian, coba dikembangkan. Kalau ada singkong bisa dibuat keripik, kalau ada pisang bisa diolah menjadi produk bernilai tambah. Yang penting mulai dulu dari yang paling dekat dengan diri kita. Setelah menemukan pasar, baru usaha dikembangkan secara bertahap,” ujarnya usai menghadiri acara seminar nasional di Kementerian Pertanian, Kamis (16/7/2026).
Gunawan mengaku dirinya pun memulai perjalanan bisnis dengan membantu usaha keluarga. Tantangan terbesarnya justru datang ketika harus memimpin perusahaan yang sebagian besar karyawannya telah bekerja puluhan tahun dan usianya jauh lebih senior.
“Saya harus belajar bagaimana menyampaikan perubahan kepada karyawan yang jauh lebih tua dengan tetap menghormati mereka. Kuncinya membangun tim yang solid dan maju bersama,” katanya.
Kini, SUFAM berkembang menjadi salah satu produsen toge dan jamur yang memproduksi sekitar 7 ton toge setiap hari dari fasilitas produksinya di Parung, Kabupaten Bogor dan Ciseeng. Perusahaan tersebut mempekerjakan sekitar 50 karyawan.
Produk SUFAM dipasarkan melalui berbagai segmen, mulai dari pasar tradisional, supermarket modern seperti Super Indo dan Hypermart, platform penjualan daring, hingga memasok kebutuhan restoran di wilayah Jabodetabek.
Ke depan, Gunawan menargetkan perluasan pasar ke Bandung, Surabaya, hingga Bali. Untuk mendukung distribusi produk yang memiliki masa simpan singkat, SUFAM juga berencana membangun fasilitas produksi di sejumlah daerah dalam tiga hingga empat tahun mendatang.
Bagi Gunawan, keberhasilan usaha bukan hanya diukur dari keuntungan, tetapi juga dari manfaat yang diberikan kepada masyarakat.
“Saya bersyukur usaha ini bisa menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 50 karyawan. Belum lagi petani dan pemasok yang ikut merasakan manfaatnya. Semakin banyak wirausahawan yang lahir, semakin banyak pula lapangan kerja yang tercipta,” ungkapnya.
Karena itu, ia mendorong generasi muda agar tidak terpaku mengejar bisnis yang sedang viral di media sosial.
“Jangan langsung berpikir harus ekspor atau punya usaha besar. Mulailah dari pasar sekitar. Kalau sudah berjalan, kapasitas produksi bisa terus ditingkatkan. Yang penting konsisten dan terus belajar,” tuturnya.
Gunawan berharap agar Kementerian Pertanian terus memperluas program pendampingan dan pembinaan bagi wirausaha muda di sektor pertanian.
Menurutnya, sektor pertanian memiliki potensi besar untuk melahirkan pengusaha baru sekaligus menciptakan lapangan kerja yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Satu kata kunci untuk anak muda yang ingin sukses di bidang pertanian adalah pantang menyerah. Dalam perjalanan usaha pasti ada tantangan, tetapi kalau kita tahan banting dan terus berusaha, peluang untuk berkembang akan selalu terbuka,” pungkasnya. (Red/my)














