Jakarta, JNcom — Di tengah derasnya arus transformasi digital, ratusan ribu pelaku ekonomi kreatif Indonesia — mulai dari kreator konten, studio game indie, desainer visual, musisi digital, hingga perusahaan film dan animasi — berlomba mengadopsi teknologi terbaru. Namun sebuah riset doktoral baru mengungkap fakta mengejutkan bahwa banyak dari mereka belum benar-benar siap. Teknologi sudah dipakai, tapi belum dimanfaatkan secara strategis.
Inilah inti temuan disertasi yang dipertahankan dalam Sidang Terbuka Doktor oleh Eryc., mahasiswa Program Doktor Ilmu Ekonomi Konsentrasi Manajemen Stratejik, Universitas Trisakti. Riset ini menjawab pertanyaan besar yaitu apakah semakin matang secara digital suatu pelaku bisnis kreatif, semakin baik pula inovasi dan kinerjanya dalam jangka panjang?
Dengan melibatkan 320 responden dari pelaku ekonomi kreatif di lima kota besar — Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Denpasar — serta diperdalam lewat Focus Group Discussion bersama para praktisi lintas subsektor, riset ini menggunakan metode statistik canggih dan analisis kualitatif untuk memetakan faktor-faktor penentu kinerja inovasi yang berkelanjutan. Total ada enam variabel yang diuji, mencakup lebih dari 10 subsektor ekonomi kreatif mulai dari game, musik, film dan animasi, desain visual, hingga periklanan digital.

Tiga Temuan Utama yang Perlu Diketahui
Pertama, inovasi model bisnis digital adalah kunci — bukan sekadar teknologinya. Bukan soal teknologi apa yang dipakai, tapi bagaimana teknologi mengubah cara bisnis menciptakan nilai, menawarkan produk secara digital, dan membuka sumber pendapatan baru. Pelaku yang mengintegrasikan ketiganya secara bersamaan terbukti memiliki kinerja inovasi yang jauh lebih kuat dan berkelanjutan.
Kedua, kematangan digital di Indonesia masih bersifat operasional, belum strategis. Ini adalah temuan paling mengejutkan dari riset ini. Digital maturity — seberapa siap sebuah organisasi secara digital — ternyata hanya berperan sebagai moderator parsial. Artinya, banyak pelaku ekonomi kreatif sudah menggunakan teknologi untuk kebutuhan sehari-hari seperti media sosial, e-commerce, dan komunikasi digital, tapi belum menjadikan digital sebagai inti strategi bisnis jangka panjang mereka. Ini adalah kesenjangan besar yang harus segera dijembatani.
Ketiga, kemampuan adaptasi, pengelolaan produk, dan kepekaan terhadap pelanggan adalah fondasi yang tidak bisa diabaikan. Tiga hal yang paling menentukan keberhasilan inovasi model bisnis digital adalah: kemampuan organisasi mendeteksi peluang dan bergerak cepat (dynamic capabilities), pengelolaan produk yang iteratif dan responsif (product management), serta pemahaman mendalam tentang kebutuhan pelanggan (customer requirement). Ketiganya harus berjalan beriringan — tidak bisa satu-satu.
“Transformasi digital bukan soal memiliki aplikasi atau akun media sosial. Ini soal apakah bisnis kita benar-benar berubah cara kerjanya — dari cara menciptakan nilai, menawarkan produk, hingga bagaimana kita menghasilkan pendapatan. Banyak pelaku kreatif kita masih di tahap pertama, padahal potensinya luar biasa.” ujar Eryc, Kandidat Doktor Ilmu Ekonomi, Universitas Trisakti.
Apa Manfaatnya bagi Masyarakat Luas?
Riset ini bukan sekadar karya akademik — ia memberikan peta jalan yang nyata bagi tiga kelompok besar.
Bagi pelaku UMKM kreatif, temuan ini menunjukkan bahwa investasi pada SDM digital, budaya organisasi yang berani bereksperimen, dan pemahaman mendalam tentang pelanggan jauh lebih penting daripada sekadar membeli teknologi terbaru.
Bagi pemerintah dan pembuat kebijakan, riset ini menggarisbawahi bahwa program digitalisasi UMKM harus melampaui pelatihan teknis — ia harus menyentuh kesiapan strategis, kepemimpinan digital, dan ekosistem kolaborasi lintas pemangku kepentingan.
Bagi investor dan ekosistem startup, riset ini menawarkan kerangka baru untuk menilai kematangan dan potensi inovasi jangka panjang sebuah bisnis kreatif secara lebih terukur.
Indonesia memiliki 17 subsektor ekonomi kreatif dengan kontribusi PDB yang terus tumbuh. Riset ini hadir tepat waktu — menawarkan landasan ilmiah untuk akselerasi yang lebih cerdas, bukan sekadar lebih cepat.
Tentang Peneliti
Eryc, S.M., M.M. lahir di Tanjung Pinang. Ia adalah Kandidat Doktor Ilmu Ekonomi, Konsentrasi Manajemen Stratejik, Universitas Trisakti.
Eryc adalah seorang profesional dengan pengalaman puluhan tahun di dunia korporat, sekaligus co-founder startup yang memahami betul tantangan nyata di lapangan. Ia juga aktif sebagai dosen dan konsisten menghasilkan riset di bidang digitalisasi serta manajemen teknologi berkelanjutan.
Perpaduan pengalaman praktis dan akademis inilah yang membuat disertasinya berakar kuat di realitas bisnis Indonesia — bukan sekadar teori. Eryc percaya bahwa penelitian terbaik lahir dari pengalaman hidup nyata yang dipertemukan dengan metode ilmiah yang ketat.
Disertasi ini berjudul “Peran Digital Maturity dalam Meningkatkan Sustainable Innovation Performance melalui Digital Business Model Innovations pada Pelaku Ekonomi Kreatif di Indonesia.” Menggunakan pendekatan mixed-method sequential explanatory dengan analisis SEM (AMOS 26.0) dan FGD yang dianalisis menggunakan NVivo 14. (red)















