Klaten, JNcom – Meski Panitia Natal 2025 sudah dibubarkan namun anggotaan masih menjalin hubungan bahkan telah membuat Group. Di tengah interaksi dalam Group WA lahirlah sebuah gagasan untuk mengadakan Ziarah dan Rekreasi (Ziarek).
Acara Ziarek yang berlangsung Selasa (19/5/2026), dilaksanakan atas inisiatif dari St. Wagino, V. Suhardjono, dan Ismiyati. Ketiga inisiator ini merasa terpanggil untuk memfasilitasi agar paseduluran salawase dapat terealisasi dengan beberapa tahapan. Tahapan yang paling diprioritaskan adalah pertemuan bersama saling bincang-bincang pada suatu tempat dan membuat kenangan hidup yang indah dan penuh syukur.
Wisata religi ke Gua Maria Tritis dan Pantai Drini daerah Gunung Kidul adalah dua obyek wisata yang dipilih. Di tengah acara yang cukup membawa.kenangan itu, hadir pula H. Bambang Soelistyanto, S. Sos, MM selaku Ketua PWRI Kabupaten Klaten. Usai berdoa secara pribadi di Gua Maria Tritis, peserta duduk bersama untuk bincang – bincang rancangan program gruop ke depan.
Dalam kesempatan itu Yf. Sri Mulyadi memberikan apresiasi pelaksanaan Natal 2025 atas kerjasama umat kristiani PWRI se Kabupaten Klaten yang diketuai Matias Suranto. Dengan ketenangan kita mengalami kedekatan dengan Tuhan dan sesama, saling mengenal, satu wadah membangun paseduluran salawase. Potensi anggota dari masing – masing kecamatan bisa lebih aktif lagi bukan hanya satu atau dua anggota yang terlibat, siap membantu kepanitiaan Natal 2026 dan sanggup untuk menjadi panitia.
Suko Harianto selaku kandidat ketua panitia Natal 2026 siap melaksanakan. Berbekal pengalaman semasa masih aktif mengajar menjadi ketua panitia natal guru se Kabupaten Klaten dengan jumlah yang hadir 1.200 peserta. Ia berangan-angan untuk tempatnya di pendopo kabupaten dengan bantuan Bambang selaku ketua PWRI Kabupaten Klaten. Gagasan mengadakan kegiatan persekutuan doa tiap 2 atau 3 bulan sekali agar mudah dalam pembentukan kepanitiaan berikutnya.
Sementara itu , Matias Suranto selaku penasihat PWRI Kabupaten Klaten mengartikan kata Emaus adalah ayem tentrem. Ngesti Manunggal nggayuh nyawiji.
Perayaan Natal perdana dilaksanakan di Sumberejo dengan mengundang separuh dari anggota PWRI masing – masing Kecamatan, kedua di pendopo Kabupaten Klaten dengan jumlah yang lebih banyak.
Bambang dalam kesempatan itu memberikan apresiasi 3 hal yang penting dalam paseduluran ini. Pertama pelaksanaan Natal sportivitas tinggi dari panitia.
Kedua Rasa hormat dapat mewujudkan satu sikap empati rasa memiliki rasa bersama berhubungan dengan siapapun.
Ketiga Rasa hormat antara sesama seperti yang diungkapkan dalam doa ketenangan ini bisa diwujudkan manakala kita selalu mendekatkan diri dengan Tuhan. Sehingga rasa hormat bisa diwujudkan dengan sesama.
Bambang berharap kedepan yang telah terjalin Paseduluran ini lebih mengemas persaudaraan semakin ditingkatkan, Maka selaku Ketua PWRI Kabupaten Klaten setiap kali diundang selalu hadir. “Karena kita menyadari bahwa PWRI adalah suatu komponen bangsa sehingga diharapkan mampu mengisi pembangunan bangsa dengan kebersamaan dalam beragama, keanekaragaman dan kebhinekaan,” ujarnya.
Dari hasil perbincangan tersebut menghasilkan beberapa kesepakatan, antara lain kegiatan bukan hanya Natalan melainkan juga Paskahan dengan pengisi renungan bergantian dari Katolik dan Kristen, paseduluran yang terbentuk dengan nama Ngesti Manunggal dengan filosofi ngesti itu gegayuhan , manunggal itu nyawiji jadi gegayuhan yang nyawiji.
Kegiatan persekutuan doa seetiap 3 bulan sekali. Kegiatan sosial mendoakan anggota yang sakit. mengundang anggota yang belum bergabung,
Sebagai puncak acara, semua peserta yang tergolong Lansia itu menikmati kebesaran Tuhan di Pantai Drini, dan Pantai Baron. Membeli hasil bumi berupa pisang, sawo, umbi. Kami pulang dengan rasa gembira dan syukur, semua dalam keadaan sehat(nano)















