Semarang, JNcom – Sejak tiga dasa warsa belakangan ini masyarakat khususnya kalangan kaum Hawa jarang dijumpai berambut Sanggul. Lain ketika di era setengah abad yang lalu mayoritas wanita berambut Sanggul.
Wanita berambut Sanggul terakhir ini hanya dijumpai pada acara-acara tertentu seperti resepsi Pernikahan atau hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April.
Melihat indikator budaya daerah yang kian terlupakan, Jeng Mamik sebagai ketua Wanita Bersanggul Indonesia (WBI) Kabupaten Semarang terus menggalakan wanita bersanggul sebagai bagian kearifan lokal, bentuk keprihatinan jeng Mamik melihat kondisi saat ini khususnya kaum wanita yang melupakan budayanya sendiri.
Dalam kesempatan itu jeng Mamik juga menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam atas wafatnya Sunarti ketua WBI Tulung Agung Jawa Timur.
“Dalam kesempatan ini saya menyampaikan Belasungkawa atas wafatnya ibu Sunarti, mugi tansah manggihi Rahayu ing pelereman swargi langgeng,” ucap jeng Mamik.
Komunitas Wanita Bersanggul Indonesia yang berpusat di Surabaya telah berjalan beberapa tahun lalu. Untuk menciptakan guyub-rukun Kalangan WBI ini memiliki agenda pertemuan serta kegiatan sosial.
Menjaga rasa toleransi antar umat bergama adalah bagian yang di kedepankan oleh WBI. Meski di tubuh internal WBI dari berbagai latarbelakang Agama namun tetap solid dalam kebersamaan untuk melestarikan budaya.
Untuk di ketahui, jeng Mamik yang keseharian nya sibuk di tempat usahanya “Mamic Salon” Candirejo Pringapus, namun tetap exis dalam melestarikan budaya Wanita Bersanggul. (NANO)















