Melestarikan Permainan Tradisional yang Terlupakan 

Salatiga, JNcom – Permainan tradisional yang kerap diperagakan oleh anak-anak pada jaman dahulu nyaris tidak dikenali oleh anak-anak jaman sekarang, seperti mainan Gerobag Sodor, lompat Tali, Naik Egrang serta petak Umpet. Untuk menjaga kepunahan permainan tradisional tersebut, Mahasiswa Unnes Semarang yang melakukan KKN di Dusun Gading, Desa Duren, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang. dalam bagian giatnya…

Avatar admin

by

3 menit

Read Time

Salatiga, JNcom – Permainan tradisional yang kerap diperagakan oleh anak-anak pada jaman dahulu nyaris tidak dikenali oleh anak-anak jaman sekarang, seperti mainan Gerobag Sodor, lompat Tali, Naik Egrang serta petak Umpet.

Untuk menjaga kepunahan permainan tradisional tersebut, Mahasiswa Unnes Semarang yang melakukan KKN di Dusun Gading, Desa Duren, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang. dalam bagian giatnya justru mengajak anak-anak untuk mengenalkan mainan anak seperti Gobak sodor, lompat Tali, naik Egrang, dan engklek.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pelestarian permainan tradisional yang digagas Bhisma Damar, mahasiswa Ilmu Keolahragaan yang tergabung dalam Unnes Giat 16. Pelaksanaan kegiatan dimulai dengan pengenalan permainan dan aturan dasar kepada anak-anak.

Setelah memahami cara bermain, mereka kemudian diberikan kesempatan untuk mencoba secara langsung dengan pendampingan selama kegiatan berlangsung.

Gobak sodor menjadi salah satu permainan yang menghadirkan suasana paling dinamis. Anak-anak harus berlari melewati penjagaan lawan sekaligus menyusun strategi bersama anggota kelompok. Tidak cukup hanya mengandalkan kecepatan, mereka perlu memperhatikan pergerakan lawan dan menentukan waktu yang tepat untuk bergerak.

Menurut Bhisma, dari permainan tersebut, aktivitas fisik berpadu dengan komunikasi dan kerja sama tim. Permainan lainnya menghadirkan tantangan yang berbeda. Dalam lompat tali, anak-anak melatih kelincahan dan koordinasi gerak ketika berusaha melewati tali.

Egrang mengajarkan keseimbangan sekaligus keberanian untuk mencoba, sementara engklek membutuhkan konsentrasi dan ketepatan dalam setiap lompatan.

Perbedaan karakter dalam permainan tersebut membuat anak-anak mendapatkan pengalaman gerak yang beragam dalam satu kegiatan.
Hal menarik tidak hanya terlihat dari aktivitas fisik yang dilakukan. Interaksi antaranak juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan.

Mereka belajar menunggu giliran, mengikuti aturan, memberi semangat kepada teman, menerima kemenangan maupun kekalahan, serta mencoba kembali ketika mengalami kegagalan. Permainan yang sederhana justru membuka ruang bagi anak-anak untuk belajar mengenai kerja sama dan sportivitas secara alami.

Bagi Damar, respons anak-anak selama kegiatan menjadi bagian penting dari tujuan yang ingin dicapai. Permainan tradisional tidak perlu dibuat rumit untuk dapat menarik perhatian anak. Ketika diberikan kesempatan untuk mencoba dan bermain bersama, anak-anak dapat menemukan kesenangan dari aktivitas yang sebelumnya mungkin belum mereka kenal. “Saya melihat anak-anak cukup antusias ketika diberi kesempatan untuk mencoba.

”Dari situ saya merasa permainan tradisional sebenarnya masih bisa diterima dan dinikmati anak-anak kalau diberikan ruang untuk dimainkan,” ungkap Damar.

Lanjutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-4, Quality Education, karena permainan menjadi media pembelajaran nonformal yang membantu mengembangkan kemampuan fisik, sosial, kerja sama, konsentrasi, dan karakter anak.

Kegiatan ini juga berkaitan dengan SDGs tujuan ke-11, Sustainable Cities and Communities, melalui upaya menjaga permainan tradisional sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Dengan menggabungkan aktivitas fisik, pendidikan, dan budaya,

Kesimpulan dari permainan tradisional dapat menjadi bagian dari pembelajaran yang dekat dengan kehidupan anak.
Pada akhirnya, pelaksanaan kegiatan di Dusun Gading menunjukkan bahwa melestarikan permainan tradisional dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana: menyediakan ruang bagi anak-anak untuk bermain.

Gobak sodor, lompat tali, egrang, dan engklek bukan hanya membuat anak-anak berlari dan melompat, tetapi juga mempertemukan mereka dalam interaksi yang nyata. Dari lapangan sederhana tersebut, permainan tradisional kembali mendapatkan tempat sekaligus membawa pesan bahwa budaya, pendidikan, dan aktivitas fisik dapat tumbuh bersama melalui sebuah permainan. (NANO)

About the Author

About the Author

Easy WordPress Websites Builder: Versatile Demos for Blogs, News, eCommerce and More – One-Click Import, No Coding! 1000+ Ready-made Templates for Stunning Newspaper, Magazine, Blog, and Publishing Websites.

BlockSpare — News, Magazine and Blog Addons for (Gutenberg) Block Editor

Search the Archives

Access over the years of investigative journalism and breaking reports