Salatiga, JNcom – Jenang atau Dodol adalah bagian dari cemilan tradisional yang melegenda. Cemilan yang satu ini terbuat dari bahan baku beras ketan, gula merah, serta santan/kelapa. Proses pembuatannya membutuhkan waktu yang cukup lama. Untuk takaran per-10 Kg bahan baku bisa mencapai 7 hingga 8 jam.
Sementara itu, Jenang atau Dodol diketahui mengandung lemak dari santan dan zat besi dari gula merah, namun karena tingginya gula kalori rendah serat. Jenang juga dinilai dapat memberikan asupan energi instan yang tinggi karena kaya akan karbohidrat dari tepung ketan dan gula.
Jenang lazimnya untuk suguhan di acara – acara tertentu atau sebagai buah tangan dengan berbagai kemasan yang cukup apik sehingga lebih menarik jika dikonsumsi oleh lapisan masyarakat dari berbagai kalangan.
Bicara tentang Jenang, jika anda melintas di kota Salatiga hanya ada satu nama yang melegenda yaitu Jenang “Mbak Brintik” yang hingga kini dapat dijumpai di area kios Pasar Blauran Salatiga.
Hasyim Hadi Atmojo ketika ditemui di tempat produksi di lingkungan Karangduren Tengaran pada Jumat (7/08) mengatakan, usaha produksi Jenang sudah turun temurun atau meneruskan warisan leluhur.
“Setelah istri atau mbak Brintik meninggal kami keluarga tetap meneruskan usaha Jenang sebagai warisan leluhur,” ungkap Hasyim.
Hasyim menambahkan, usahanya yang dikelola saat ini pemasarannya lebih melayani pelanggan lokal Salatiga namun demikian ia kadang menerima pesanan dari luar kota.
Seperti di ketahui, kios Mbak Brintik bukan saja tersedia Jenang yang menjadi icon namun juga tersedia Wajik, Jadah, serta Trasikan yang semuanya menggunakan bahan baku beras ketan serta gula merah.
Sementara untuk Jenang dibandrol harga 50 ribu/kilogram. Jika bicara omzet per minggunya di kisaran angka 5 jutaan.
“Saya berharap usaha Jenang ini bisa menjadi dinasti, syukur anak saya ke depan bisa meneruskan,” pungkas Hasyim. (NANO)














