Jakarta, JNcom – Dalam rangka membangun sumber daya manusia yang berkualitas untuk menyongsong Indonesia Emas tahun 2045, Pemerintah Pusat melalui BKKBN bekerjasama dengan Komisi IX DPR RI dan Pemerintah Daerah Provinsi Bali melaksanakan kegiatan sosialisasi dan KIE Program Bangga Kencana, Sabtu (31/5/2025) di Balai Banjar Teges, Desa Gianyar, Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar, Bali.
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber yaitu Tutik Kusuma Wardhani, S.E., M.M., M.Kes. (Anggota Komisi IX DPR RI), dr.Ni Luh Gede Sukardiasih, M. F.or.,M.A.R.S (Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali), Soetriningsih, S.Sos., M.Si (Direktur Bina Peran Serta Masyarakat – Kemendukbangga/ BKKBN), I Wayan Daramdi, ST. (Kabid KBKS Dinas P3AP2KB Kab. Gianyar).
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, dr.Ni Luh Gede Sukardiasih, M. F.or.,M.A.R.S mengatakan, untuk mewujudkan keluarga berkualitas, Kemendukbangga/ BKKBN terus melakukan intervensi di semua siklus hidup yaitu BKB, BKR, BKL dan UPPKS guna memberikan pemahaman keluarga bagaimana perawatan balita, pendampingan remaja, perawatan lansia dan peningkatan ekonomi keluarga.
Ia menambahkan, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendikbangga) saat ini memiliki beberapa “Quick Win” atau program percepatan, diantaranya program Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), program Gerakan Orangtua Asuh Cegah Stunting (GENTING), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), dan Lansia Berdaya (SIDAYA).
“Kami sudah menyelenggarakan Pelayanan KB gratis pada event tertentu. Untuk Pria ada kondom dan vasektomi. Sementara untuk wanita: IUD, pil, suntik, implan, steril/Tubektomi. Calon pengantin (Catin) harus persiapan prekonsepsi, diperiksa terlebih dahulu calon ibu apakah menderita anemia atau tidak. Artinya, jangan mementingkan prewedding saja. Dalam waktu 3 bulan sebelum hamil harus dipastikan HB-nya normal,” ujar dr.Ni Luh Gede Sukardiasih.
Ia juga mengingatkan kepada orang tua yang memiliki anak agar sebelum mengizinkan anaknya menikah alangkah baiknya ingat 4T yaitu jangan terlalu muda, jangan terlalu tua, jangan terlalu dekat jarak kelahirannya, dan jangan terlalu banyak anak. “Semua kelahiran harus direncanakan,” tambahnya.
Hal senada diungkapkan oleh Direktur Bina Peran Serta Masyarakat – Kemendukbangga/BKKBN, Soetriningsih, S.Sos., M.Si bahwa usia 21 dan 25 tahun sering dianggap sebagai usia ideal untuk menikah karena dianggap sebagai usia di mana seseorang telah mencapai kematangan fisik dan mental yang lebih baik, serta memiliki kesiapan untuk membangun keluarga.
Merujuk hal ini, kata Soetriningsih, maka ada 4T dalam konteks kesehatan yaitu jangan Terlalu Muda, Terlalu Tua, Terlalu Dekat, dan Terlalu Banyak, yang terkait dengan faktor risiko kehamilan dan kelahiran.
“Yang menentukan pilihan metode kontrasepsi itu adalah suami. Keterlibatan suami dalam pemilihan alat kontrasepsi sangat penting, karena suami dapat memberikan dukungan, baik informasi maupun emosional, yang memengaruhi keputusan istri,” ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Anggota Komisi IX DPR RI, Tutik Kusuma Wardhani, S.E., M.M., M.Kes. menjelaskan bahwa sebagai anggota Komisi IX DPR RI yang membidangi kesehatan dan ketenagakerjaan, DPR selalu terbuka bagi masyarakat yang ingin memberikan masukan dan menyampaikan aspirasinya.
“Terkait dengan Program Bangga Kencana, saya mengajak keluarga Indonesia agar bisa lebih sehat dan sejahtera, maka rencanakan keluarga dengan baik, mulai dari persiapan catin sebelum menikah, melahirkan, mendidik anak dengan pola asuh yang tepat, membimbing remaja agar produktif sampai perawatan untuk lansia berdaya,” tutupnya. (Red/my)











