Nasional

Hari Kartini 2026: Mengingat Gagasan Emansipasi dan Tantangan Kesetaraan di Era Modern

×

Hari Kartini 2026: Mengingat Gagasan Emansipasi dan Tantangan Kesetaraan di Era Modern

Share this article
Deputi BPJK DPP Partai Demokrat, Taufiqurahman

Jakarta, JNcom – Hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April, tidak hanya sekadar menjadi seremoni, melainkan ruang refleksi atas gagasan emansipasi yang diwariskan Raden Ajeng Kartini dan relevansinya dalam konteks kekinian.

Kartini dikenal sebagai pelopor pemikiran kesetaraan perempuan di Indonesia. Lahir di Jepara pada 21 April 1879, ia hidup dalam situasi sosial yang membatasi akses perempuan terhadap pendidikan.

Melalui surat-surat yang ditulis kepada koleganya di Eropa, Kartini menyuarakan kritik terhadap struktur sosial yang mengekang perempuan sekaligus menawarkan visi tentang pentingnya pendidikan dan kebebasan berpikir.

Surat-surat tersebut kemudian dihimpun menjadi buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang terbit pada 1911. Karya ini memuat refleksi Kartini mengenai ketimpangan gender, praktik budaya seperti pingitan dan perkawinan paksa, hingga harapan akan lahirnya perempuan yang mandiri dan berpengetahuan. Judulnya menjadi metafora atas transisi dari keterbelakangan menuju kemajuan melalui pendidikan.

Dalam pemikirannya, Kartini menempatkan pendidikan sebagai kunci utama kemajuan. Ia meyakini bahwa perempuan yang terdidik tidak hanya mampu memperbaiki nasibnya sendiri, tetapi juga berkontribusi terhadap pembangunan masyarakat secara luas.

Selain itu, Kartini juga mengkritik adat yang dinilai membatasi kebebasan perempuan. Tradisi pingitan dan praktik perjodohan menjadi sorotan karena dianggap menghambat perkembangan intelektual dan kemandirian perempuan. Kritik ini menunjukkan bahwa perjuangan Kartini tidak hanya bersifat personal, tetapi juga struktural.

Relevansi di Era Modern
Lebih dari satu abad setelah gagasan tersebut disuarakan, akses perempuan terhadap pendidikan dan karier memang mengalami peningkatan. Namun, tantangan kesetaraan belum sepenuhnya terselesaikan. Kesenjangan kesempatan kerja, beban ganda, hingga stereotip gender masih menjadi isu yang dihadapi perempuan di berbagai sektor.

Hari Kartini, dalam konteks ini, menjadi pengingat bahwa perjuangan emansipasi bersifat berkelanjutan. Bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga mendorong upaya konkret untuk menciptakan ruang yang lebih setara.

Deputi BPJK DPP Partai Demokrat, Taufiqurahman, menyebut bahwa peringatan Hari Kartini perlu dimaknai sebagai dorongan untuk memperkuat peran perempuan melalui pendidikan, kemandirian ekonomi, dan kesetaraan hak.

Menurutnya, perempuan didorong untuk menjadi tangguh, adaptif, serta aktif dalam pembangunan berkelanjutan, termasuk dalam menghadapi transformasi digital. Literasi digital dinilai menjadi salah satu aspek penting agar perempuan dapat bersaing dan berpartisipasi dalam berbagai bidang.

Dari Simbol ke Aksi
Peringatan Hari Kartini kerap diisi dengan kegiatan edukatif, diskusi publik, hingga kampanye di media sosial. Namun, lebih dari itu, esensi peringatan ini terletak pada implementasi nilai nilai yang diperjuangkan Kartini dalam kehidupan sehari hari.

Penguatan akses pendidikan, dukungan terhadap program pemberdayaan perempuan, serta peningkatan kapasitas individu menjadi langkah konkret untuk melanjutkan gagasan emansipasi tersebut.

Hari Kartini 2026 pada akhirnya bukan sekadar penanda tanggal, melainkan momentum untuk menilai sejauh mana cita cita kesetaraan telah terwujudserta apa yang masih perlu diperjuangkan di masa depan. (Berlian)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *