Nusantara

Budaya Sungkeman di Suasana Idul Fitri Patut Dilestarikan 

×

Budaya Sungkeman di Suasana Idul Fitri Patut Dilestarikan 

Share this article

Temanggung, JNcom – Saling maaf – memaafkan adalah sikap pribadi yang patut dipuji sebagai cerminan sifat rendah hati(tawadhu). Seperti halnya yang terjadi di masyarakat Desa Larangan Luwok Kecaamatan Bejen Temanggung.

Budaya saling memaafkan dilakukan ketika jatuh pada 1 Syawal atau Idul Fitri. Anggota masyarakat saling berkunjung ke sanak famili serta tetangga untuk mengucapkan kata maaf di bulan dan hari yang penuh ampunan (fitroh).

Uniknya, meski Hallal bi Hallal yang telah membudaya tidak saja dilakukan oleh kalangan umat Islam namun dari kalangan umat Kristiani juga melakukan Hallal bi Hallal dengan mendatangi ke rumah umat Islam untuk melakukan acara Hallal bi Hallah.

Walmudi(51)kepala Dusun Larangan desa Larangan Luwok ketika dikonfirmasi terkait budaya Hallal bi Hallal di lingkungannya, acara Hallal bi Hallal yang telah berlangsung dari jaman ke jaman yaitu Sungkeman.

Sungkeman, menurut Walmudi adalah budaya yang patut dilestarikan.
Karena dimaknai penuh dengan membangun pribadi seseorang dengan saling memaafkan di suasana kembali ke fitroh / Suci.

”Budaya Sungkeman dengan saling bermaafan perlu di lestarikan untuk generasi mendatang agar jangan sampai terkikis oleh budaya asing,” ucap Walmudi.

Seperti dilaporkan oleh Nano Prayogo , budaya Sungkeman, yang lebih muda mendatangi yang tua. Dengan dilandasi adab, yang muda bersimpuh di hadapan yang lebih tua, dengan mengucap permohonan maaf, demikian juga disambut jawaban yang lebih tua memberikan maaf.

Sementara itu desa Larangan Luwok terdapat lima(5) dusun dan empat(4)RW dengan mayoritas penduduk bercocok tanam Kopi. Sementara masyarakat Larangan dalam kehidupannya saling menjaga Adab serta Guyub antar warga dengan mengedepankan rasa toleran antar umat beragama.

Sementara itu, sejak Walmudi duduk sebagai Kadus (2013)ia telah memperjuangkan 25 paket Bedah rumah yang dapat dirasakan oleh warga yang hidupnya di bawah garis kemiskinan.

Menanggapi tahun 2027 depan di Desanya akan melangsungkan Pilkades, Walmudi tidak niat maju mencalonkan diri. Pasalnya ia merasa tidak mampu. Tapi, jika mendapat dukungan dari masyarakat ia akan kembali mempertimbangkan untuk maju atau tidaknya(NANO)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *