by

Wayan Supadno : Merdeka dulu, Baru Membangun

-Nusantara-90 views

Bogor, JNcom – Pada hari Jumat lalu, tanggal 2 Desember 2022, saya diminta oleh Kampus IPB University, mengisi kuliah umum. Berbagi pengalaman pribadi, termasuk menyimak kisah orang lain yang inspiratif.

Sebagian orang menganggap bahwa jadi pebisnis harus punya modal jumlah banyak tertentu terlebih dulu. Maka mereka kerja di perusahaan menabung dulu, agar punya modal banyak untuk mengawali bisnis.

Ternyata anggapan itu berdasarkan empiris salah besar. Yang benar adalah berbisnislah terlebih dulu agar punya modal. Untuk membesarkan usaha agar makin besar laba dan manfaatnya bagi orang lain.

Kalimat itu saya pertegas berulang kali di hadapan Wakil Dekan, Dosen dan ratusan mahasiswa IPB University Bogor. Guna meyakinkan agar pada segera memulai memerdekakan dirinya. Jadi pengusaha. Agar tiada pengangguran dan mengirim TKI.

Sembari saya berikan banyak contoh nyata kiat pengalaman saya pribadi modal Rp 100.000 untuk usaha. Itupun utang Primkopad Rindam l/BB Pematang Siantar Sumut. Mengelola 7 komoditas usaha.

Selama 5,5 tahun bisa Rp 6,7 miliar wujud deposito. Selain kebun di Kandis Riau. Mengkaryakan banyak orang. Secara matematis memang tidak logis. Tapi memang itu adanya. Sejujurnya saya katakan. Agar jadi pemantik nyali berani mengawali bisnis.

Contoh lain lagi, Pabrik semen (PMA) di Sentul Jawa Barat. Sebanyak 137 orang karyawan pensiun dini dapat pesangon di atas Rp 1,6 miliar/orang. Setelah 2 tahun, yang masih bertahan hanya tidak lebih dari 4 orang. Lainnya ludes atau tersisa sedikit.

Artinya modal tabungan dan pesangonnya yang miliaran sekalipun bukan jadi tumbuh. Justru hampir semuanya tinggal sedikit. Multi sebab. Padahal jabatannya banyak jadi unsur pimpinan.

“Saya tahu persis hal itu karena Direksinya datang ke rumah Cibubur. Mengajak diskusi mencari solusi konkret lapangan. Agar tidak terus terjadi. Karena banyak di antara mereka ujungnya minta dikaryakan lagi,” tuturnya.

Lalu solusi yang saya tawarkan, lanjutnya, adalah membangun kandang sapi. Di lahan milik perusahaan yang sudah tidak produktif, bekas penambangan. Menanam hijauan inovatif. Meremediasi lahan dari feses dan urinnya diperkaya mikroba Bio Extrim dan Hormax. Subur sekali.

Justru saat ini, di sana telah berkembang jadi ratusan ekor sapi. Bahkan telah jadi beberapa kandang baik sapi maupun domba kambing. Artinya aset bisnisnya tumbuh berkembang seiring makin terampilnya mengelola bisnisnya.

Contoh lagi. Orang berilmu tinggi ditandai pendidikan formalnya tinggi, karena punya gelar akademik ganda. Mengelola aset usaha harta milik orang tua (warisan) jumlah banyak. Ludes, juga tidak jadi gagal punya predikat pebisnis/pengusaha.

Begitu juga pengalaman saya pribadi. Andaikan menunggu punya modal dulu. Padahal saat itu tahun 1995, pangkat letnan dua (letda), kondisi ekonomi minimum dan dari keluarga transmigrasi.

“Gaji tentara semua orang tahu. Maka tidak mungkin bisa diawali bisnis jika harus punya tabungan banyak terlebih dulu. Mau tidak mau, suka tidak suka. Mengikuti ajaran Bung Karno “Merdeka dulu, barulah membangun”, pungkasnya.

Konsekuensi logisnya. Harus menata ulang pola pikir. _Mindset_ diubah. Bahkan dibalik. Justru karena tidak punya modal, segera diawali. Dengan modal bisnis sedikit, jika gagal maka nilainya tidak besar. SPP sekolah bisnis/praktisinya, tidak besar. (Mul)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed