by

Marak Penggunaan Zat Berbahaya, Said Aqil Siroj: Hentikan dan Cari Solusinya

-Nasional-106 views

Jakarta, JNcom – Merebaknya berbagai kasus penggunaan zat berbahaya pada pangan dan obat obatan di Indonesia memerlukan adanya sistem pengawasan yang lebih ketat oleh BPOM. Terbaru, penggunaan Etilen Glikol dan Dietilen Glikol pada obat sirup anak menimbulkan beberapa kasus gagal ginjal akut misterius pada anak yang telah menewaskan sedikitnya 145 orang di Indonesia.

Kasus lain adalah penolakan produk makanan mie dari Indonesia di luar negeri, karena disinyalir ditemukan kandungan kadar Etilen Oksida yang berlebihan. Etilen Oksida adalah senyawa organik yang dahulu digunakan untuk membuat fungisida dan sejauh ini Etilen Oksida telah digunakan di industri farmasi, tekstil dan lainnya serta digunakan sebagai pembersih di industry kimia. Karena dideteksi ada residu pestisida Etilin Oksida (EtO) dan disinyalir tidak sesuai dengan regulasi setempat dan produk mie Indonesia tersebut ditolak oleh otoritas Taiwan (FDA), Singapura (SFA) dan Hongkong (CFS) karena dianggap berpotensi meningkatkan resiko kanker payudara dan darah.

Menyikapi kondisi tersebut, Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Islam dan Lembaga Persahabatan Ormas Keagamaan (LPOI-LPOK), Prof. DR. KH. Said Agil Siroj, MA menyerukan bahwa problematika Keamanan Obat dan Makanan yang sedang terjadi di Indonesia, dengan berbagai fakta dan fenomenanya, harus segera dicarikan solusi.

“Pemerintah harus.bersikap lebih tegas, lebih adil dan lebih memihak pada rakyat, atas berbagai bentuk pelanggaran dan kecerobohan yang terjadi. Serta Negara tidak boleh kalah dari siapapun,” ujar Said Aqil Siroj dalam Kendiri Kebangsaan dan Dialoh Publik bertema “Masa depan Keamanan Obat dan Pangan di Indonesia, Kamis (4/11/2022) di Wisma PHI, Jakarta.

Menurutnya, penggunaan zat kimia yang sangat berbahaya, termasuk “Etilen Oksida” pada berbagai jenis makanan dan minuman, harus segera dihentikan dan produknya segera ditarik dari peredaran, demi dan untuk menjamin masa depan kehidupan anak-anak dan generasi bangsa.

“Kami meminta pemerintah segera kembangkan dan masifkan model pengobatan berbasis Herbal and Tradisional Medicine, agar warga bangsa Indonesia tidak tergantung pada model pengobatan kimiawi,” pungkasnya. (my)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed