by

Kurang dari Satu Persen, Pengamat Ekonomi Nilai Pendapatan Negara dari Industri Rokok Tidak Penting

Jakarta, JNcom – Pengamat Ekonomi, Faisal Basri mengatakan, Pemerintah secara konsisten menaikkan tarif cukai rata-rata 12,5 persen setiap tahunnya. Menurutnya, Pemerintah harus melakukan akselerasi pengendalian tembakau mengingat bahan baku rokok ini mengandung zat adiktif dan cenderung meningkat konsumsinya. Berdasarkan data, prevalensi merokok penduduk Indonesia menempati urutan ketujuh tertinggi di dunia.

“Tembakau ini wajib dikendalikan baik produksinya, konsumsinya, penjualannya, iklannya. Saya kira kontribusi bagi pendapatan negara yang kurang dari 1% ini tidak penting bagi ekonomi, bahkan yang perlu dipikirkan adalah dampaknya bagi generasi muda,” ujar Faisal dalam acara webinar KBR, Rabu (14/9/2022).

Jika melihat perilaku masyarakat bawah, kata Faisal, orang miskin cenderung mengutamakan merokoknya dibandingkan kebutuhan pokoknya sehari-hari. Apalagi jika harga rokok semakin murah, konsumsinya pun akan meningkat. Ironisnya, masyarakat sering terjebak oleh ilusi harga rokok yang seolah-olah murah, padahal mahal jika dihitung harga perbatangnya.

“Pada prinsipnya, cukai itu bukan untuk meningkatkan pendapatan negara, tetapi untuk mengendalikan konsumsi rokok,” imbuhnya.

Faisal berpendapat, agar pemerintah tidak ketergantungan terhadap pendapatan negara dari industri rokok, pemerintah bisa melakukan hal yang sama dengan meningkatkan pajak dari sektor batubara misalnya. Oleh karena itu, ia menekankan kepada pemerintah untuk serius menjaga generasi emas dari dampak-dampak yang akan merusaknya. (red/my)

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed