by

PDIP, Gerindra dan PKB Berpeluang Bangun Koalisi di Pilpres 2024

-Politik-76 views

Jakarta, JNcom – Direktur Eksekutif Parameter Politik Adi Prayitno menilai Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDIP ), Partai Gerindra , dan PKB berpeluang besar membangun koalisi untuk Pemilu 2024. Penilaian itu didasari atas rencana pertemuan elite partai Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya dengan PDIP.

Menurut Adi, besarnya peluang tiga partai itu membangun koalisi didasari atas kesamaan latar belakang yakni partai pendukung pemerintah. Atas dasar itu, ia merasa tak ada jarak di antara ketiga partai tersebut.

“Ini pertemuan all president’s party. Sangat mungkin ketiga partai ini berkongsi dan melebur jadi satu poros politik. Toh sejauh ini tidak ada jarak di antara ketiga partai itu. Chemistry-nya masih kuat,” kata Adi saat dihubungi, Jum’at (19/8/2022).

Bila tiga partai itu membangun koalisi, Adi merasa Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) bakal melebur. Apalagi, hubungan antar-elite partai tersebut dinilai cukup baik. “Jika ketiga partai ini berkoalisi, sangat mungkin poros politik lain seperti KIB minat gabung. Toh sama-sama partainya Jokowi’ dan PDIP juga hubungannya cukup baik dengan elite-elite KIB,” ucap Adi.

“Jika itu yang terjadi, merem aja koalisi besar ini menang pilpres. Dengan catatan mengusung capres yang kuat,” sambungnya.

Dari kacamata Adi, poros politik yang sudah terbentuk berpeluang besar akan berubah bila PDIP telah melakukan komunikasi politik ke partai lain. Setidaknya ada tiga faktor yang dinilai Adi.

“Pertama PDIP punya Jokowi yang jadi presiden dan punya magnet kuat. Kedua, PDIP punya Megawati yang cukup powerful yang bisa menjalin koalisi dengan partai lain. Ketiga, PDIP punya capres,” terang Adi.

Adi merasa PDIP pasti akan membangun koalisi. Menurutnya, koalisi suatu adalah kewajiban bagi PDI Perjuangan. Tujuan koalisi, bukan hanya untuk memenangi pilpres tapi juga membangun kekuatan politik di parlemen.

“Tentu PDIP tak mau seperti awal-awal Jokowi jadi Presiden 2014, di mana kekuatan politik parlemen saat itu didominasi kubu Prabowo yang oposan. Praktis kebijakan politik Jokowi saat itu diprotes dan ditolak parlemen,” ungkapnya.(SR)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed