by

Kain Tenun Songket Palembang Berkualitas Bernilai Ekonomi Tinggi

Palembang, JNcom – Mengenal Motif dan Jenis-jenis Kain Tenun Songket, Palembang merupakan salah satu kota tertua yang ada di Indonesia dengan tenunan songketnya yang terkenal hingga mancanegara.

Jembatan Amperanya yang cukup dikenal sebagai ikon kotanya, Palembang merupakan ibukota Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menyimpan warisan seni budaya nenek moyangnya.

Mengunjungi beragam kain tenun Songket di Galeri Pesona Songket & Antique Palembang. Kain tenun songket Palembang merupakan kain yang dibuat secara tradisional dengan menggunakan tangan istilahnya handmade menggunakan benang sutra dan benang emas serta perak.

Hj. Eka Rahman SE. MM. selaku pemilik Pesona Bari, Songket & Antique Palembang saat dijumpai di galerinya mengatakan bahwa usahanya sendiri ditekuni sudah turun temurun sejak tahun 1952. Sudah sangat lama juga menekuni usaha ini dari generasi ke generasi. Kebetulan kita adalah generasi ketiga.

“Jadi dimulainya di generasi saya, generasi ketiga pada tahun 1990. Generasi ketiga ini sebagai cucunya,” ujarnya saat dijumpai media JNcom di galery nya, Minggu (26/6/2022).

“Salah satunya adalah tenun Songket.
Kain nan mewah ini merupakan jenis kain tenun tradisional,” ucapnya.

“Kain tenun songket ini ditenun dengan tangan menggunakan benang emas dan perak di atas alat yang terbuat dari kayu bernama Gedokan yaitu alat untuk buat songket, bisa pakai gedokan atau alat tenun bukan mesin. Biasanya berukuran 2 x 1,5 meter yaitu tempat merentangkan benang yang akan ditenun,” imbuhnya.

Menurutnya, Kita sebenarnya beragam kain tenun Palembang, itu semuanya ada antara lain tenun songket, jampitan, batik Palembang, tajung, tenun selongsong, Prada. Banyak jenisnya dikarenakan kain kita itu kain tradisional yang dibuat dengan tangan atau yang dikenal handmade.

“Jadi, memang pengerjaannya itu relatif lama, istilahnya pelan tapi memang kain tenun yang dihasilkannya itu khas, jadi tidak ada yang sama kain tenun yang dihasilkannya,” ujarnya.

Dikatakan Eka sapaan akrabnya, Kita dulu usahanya bukan ditempat sekarang,
melainkan di Kertapati. Terus pengerjaannya disini juga ada workshop letaknya dibelakang. Semenjak pandemi dilakukan renovasi sehingga jadi satu area semuanya.

“Ordernya Alhamdulillah selalu ada, yang dibuat pun selalu ada berdasarkan rutinitas. Untuk satu songket pengerjaannya memakan waktu yang lama, satu stel itu bisa tiga bulan pengerjaannya. Jumlah karyawannya sudah mencapai 157 orang,” tutur Eka.

Lebih jauh Eka mengungkapkan, Sebenarnya songket kita motifnya zaman dahulu kala yang umurnya itu sampai ratusan tahun dan dari benang emas ataupun perak beneran juga ada.

Orang yang pesan kain tenun tersebut biasanya tergantung kita sudah ada patrul patrulnya. Kita tinggal meneruskan dari motif yang lama dibikin baru.

Dikarenakan motif yang lama sudah sangat langka sekali barangnya dan juga motifnya bagus sekali. Jadi kita bermodifkan, berinovasi dari segi warna biasanya itu juga tergantung keinginan konsumen dengan warna dan motif apa saja bisa dikerjakan.

Tapi, untuk tenaga kerja sendiri dan bahan bahan bakunya pun dari kita. Kualitas dan hasil pengerjaannya bisa dipertanggung jawabkan.

Pengerjaannya selama pandemi memakan waktu yang lama, jadi lamban pengerjaannya untuk satu stel lho. Kita itu selama pandemi pengerjaannya tidak dikejar-kejar sih, justru jadi lebih rapih dan lebih bagus sebenarnya.

Ada beberapa order juga yang kita kerjakan. Walaupun pandemi sudah berlalu, dari segi penjualan kita pelan-pelan tapi pasti tetap dikerjakan.

Order konsumen dari beragam tempat, baik dari dalam negeri maupun manca negara. Order pun sudah bisa dilakukan melalui jejaring sosial. Selama pandemi ini kepercayaan konsumen selalu kami jaga dan teladani, juga tetap menjaga kualitas yang dihasilkan sehingga mereka percaya atas hasil produksi kami.

Tak diragukan lagi kualitas pengrajin kami, karena pengrajin kita turun temurun keahliannya sehingga dalam pengerjaannya sudah tidak diragukan lagi kemampuannya.

Membuat satu lembar kain tenun songket waktu yang diperlukan secepatnya 3 bulan lho. Bahkan untuk selembar kain tenun songket bisa memerlukan waktu setahun lamanya. Kain tenun songket ini juga memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.

Semakin tua umur kain tenun songket, maka dapat dipastikan pula harga kain tenun songket tersebut semakin tinggi.

Harga kain tenun songket memiliki harga yang bisa dibilang cukup tinggi hingga ratusan juta rupiah.

Kain tenun Songket sendiri biasanya di beli untuk perayaan hari-hari besar seperti hari pernikahan ataupun perayaan seremonial di Kota Palembang.

Di galery miliknya, Eka pun menjual beragam aksesori juga yang berbahan dasar dari kain tenun songket.

Menurutnya, songket merupakan kain tenun yang dibuat menggunakan tangan yang memiliki nilai seni tinggi, dan kehati-hatian serta ketelitian diperlukan saat membuatnya. Itulah yang membuat harga kain tenun songket bisa bernilai ekonomi yang tinggi karena memiliki nilai keunikan di dalamnya.

Kain tenun tradisional ini pengerjaannya memang mahal yang tak ada duanya. Selalu berinovasi mengikuti trik-trik yang baru.

Eka pun tidak ada kekhawatiran dengan yang namanya persaingan karena setiap usaha yang sejenis itu memang keren, jenis handmade yang dihasilkannya pun beda, tidak akan pernah bisa sama. Kalau mau sama dan seragam dikerjakannya dari awal sama-sama .

Dari beberapa penghargaan yang paling berkesan dan bernilai tinggi adalah Piala dan penghargaan dari Presiden Soeharto. Tak hanya itu, kunjungan ibu Presiden Ainun Habibi dan Ibu Ani Yudhoyono ke galery nya.

Dikatakan keinginan kedepannya adalah terus eksis istilahnya itu terus berkembang, berinovatif, mengikuti perkembangan zaman dengan tidak menghilangkan kemegahan tadisionalnya.

Eka pun membagikan tips serta trik cara menyimpan kain tenun songket yang baik dan benar. Menurutnya. kain tenun songket sebaiknya disimpan dengan cara digulung. Ini dilakukan agar kain tenun songket tidak patah. Dihubungi melalui sellular untuk dikonfirmasi dan mendapatkan informasi tambahan, Rabu (29/6/2022).

Kalaupun harus melipatnya, diharapkan kain tenun songket tersebut tidak ditumpuk dengan beban yang berat diatasnya karena dapat membuat benang-benang patah yang ada pada kain tenun songket tersebut.

Pemakaian kain tenun songket yang sesekali ataupun jarang membuat kain tenun songket tersebut bisa disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama. Beberapa bulan sekali diangin-anginkan biar tidak kedap. Pastikan selalu berada ditempat yg tidak lembab.

Guna menghindari adanya serangga seperti rayap ataupun serangga kecil lainnya mendekat pada kain tenun songket tersebut, ada baiknya pemilik kain tenun songkat meletakkan biji merica atau lada, ataupun cengkeh di dekat kain tenun songket tersebut.

Fungsi dari biji merica ataupun cengkeh tersebut sebagai penangkal kehadiran serangga yang dapat menyebabkan kerusakan pada kain tenun songket tersebut. (Guffe).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed