by

Terkesan Dipaksakan Dalam Gugatan Wanprestasi Rp 2,5 M Terhadap Ganuni

Jakarta, JNcom – Pengadilan Hubungan Industrial Denpasar dalam perkara No.490/Pdt.G/Dps dengarkan keterangan Saksi dari Penggugat I Made S atau IMS. Ganuni melalui kuasa hukumnya Togar Situmorang memastikan akan membela Hak Kepemilikan Sertifikat milik kliennya sendiri.

Togar menyampaikan surat tanah yang dimiliki kliennya bukan berasal dari harta Gonogini. Bahkan, dia menambahkan kepemilikan sertifikat itu atas nama Ganuni. Perlu diketahui, Ganuni saat ini sebagai Tergugat di Pengadilan Denpasar.

Menurut Togar Situmorang, dimana Gugatan Wanprestasi terkait Akta Pengakuan Hutang dibuat antara IMS sebagai Penggugat dengan almarhum Arbiyanto Budi Setiono dibuat di kantor Notaris Hartono tanpa persetujuan pemilik objek sertifikat milik Tergugat Ganuni.

” Dan tanpa persetujuan secara tertulis atau hadir ikut menandatangani Akte tersebut sebagai penjamin karena sertifikat milik Ganuni jelas itu ada penyeludupan hukum dalam Akta tersebut,” ujar Togar Situmorang kepada JURNALNUSANTARA.COM di Jakarta, senen (13/12/2021).

Kejanggalan saat sidang dikarenakan disebut oleh pengacara Penggugat IMS mendudukkan diri Tergugat sebagai penanggung jawab Akta Hutang Piutang. Dikarenakan sebagai istri dari almarhum Arbiyanto Budi Setiono hal itu telah dibantah tegas oleh advokat Togar Situmorang.

Togar Situmorang menyebut agar dalam persidangan untuk tidak membuat opini atau penggiringan situasi apalagi tanpa bukti secara hukum sah. Dan sebagai pemilik objek lahan berupa tanah dan bangunan di Kota Malang Jawa Timur kini sebagai Tergugat dipengadilan.

” Hanya berdasarkan dalam Akta Hutang Piutang dikatakan telah setuju secara lisan itu atas pengakuan Almarhum Arbiyanto Budi Setiono yang bukan suami sah sesuai UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan jelas sangat keberatan,” tegasnya.

Pada rabu 8 Desember 2021 lalu dipersidangan Saksi dari Penggugat tidak hadir. Namun, Saksi juga tidak tidak menghadiri pada saat pembuatan Akte Pengakuan Hutang Piutang antara Penggugat yaitu I Made S/IMS dengan Almarhum Arbiyanto Budi Setiono di Kantor Notaris Hartono.

Lebih lanjut, kata Togar, terkait jumlah Rp 2,5 miliar yang dibuat dalam Akta Pengakuan Hutang Piutang adalah peristiwa kumpulan kwitansi yang berbeda meskipun pada keterangan bulan dan tahun berbeda.

Togar menilai Akte Hutang Piutang tersebut terdapat kejanggalan. Sebab, bukti-bukti dipersidangan menyatakan jumlah pinjaman senilai Rp 1,7 miliar. Kemudian, Saksi juga tidak mampu membuktikan bahwa Tergugat adalah istri sah dari Almarhum Arbiyanto Budi Setiono.

” Karena tidak ada satu alat bukti hukum sah sesuai aturan hukum yang diatur dalam UU No.1 Tahun 1974 dan terkait objek lahan berupa sertifikat atas nama Ganuni juga tidak melihat kapan bisa berada dalam jaminan objek dalam Akta hanya berdasarkan pengakuan keterangan lisan dari almarhum Arbiyanto Budi Setiono,” terangnya.

Dalam Gugatan Wanprestasi yang didalilkan ada Hutang Piutang dengan nilai sebesar Rp 2,5 milliar tersebut, kata Togar, kliennya tidak pernah menikmati uang pinjaman yang tertulis didalam Akta Pengakuan Utang.

Selain itu, surat keberatan juga disampaikan di persidangan tentang penyitaan terhadap objek milik Ganuni. Ia berpendapat, sidang Gugatan ini dianggap hbprematur dan terkesan dipaksakan. Alasannya, Tergugat bukan istri sah secara hukum serta tidak tercatat secara negara. (han)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed