by

Migo-Bullyid Indonesia dan KPPPA Sikapi Penggunaan Internet Terhadap Anak-Anak

-Nasional-46 views

Jakarta, JNcom – Dengan terintegrasinya berbagai media digital dalam proses belajar-mengajar maupun di lingkungan sekolah tentunya akan melibatkan media sosial dan aplikasi daring dalam proses pembelajarannya. Hal tersebut, penting untuk memperhatikan kesejahteraan digital baik untuk tenaga pendidik, anak/peserta didik dan seluruh pemangku kepentingan di bidang pendidikan.

Salah satu aspek kesejahteraan digital yang perlu menjadi perhatian diantaranya adalah pencegahan dan penanganan perundungan (bullying) baik secara daring maupun luring.

Upaya pencegahan dan penanganan perundungan serta perlindungan anak pun telah secara baik dan masif dilakukan oleh berbagai pihak di Indonesia, terutama oleh Kementarian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (Kemen PPPA).

Dalam rangka mendukung lebih lanjut upaya-upaya yang sudah berjalan, Migo Indonesia bekerjasama dengan Bullyid Indonesia (organisasi bergerak di bidang pencegahan dan penanganan bullying) menyelenggarakan webinar secara online, dengan tagline “Mewujudkan Kesejahteraan Digital di Lingkungan Sekolah”. Selasa (23/11/2021).

Aisanya Wibhuti perwakilan dari Migo mengatakan penggunaan teknologi harus dilakukan secara sehat. Keunggulan aplikasi Migo videonya bisa diputar secara offline tanpa kuota. “Inilah bedanya Migo dengan aplikasi lain. Sehingga kualitas belajar sangat baik, dan mudah. Membantu para siswa dan guru dalam proses belajar mengajar,” jelasnya.

Dirinya berharap dengan menggunakan aplikasi ini dapat mensupport pendidikan dimasa yang akan datang. Terlebih selama pandemik Covid -19 hampir dua tahun ini, belajar lebih banyak dilakukan secara daring tentunya ada keterbatasan kuota. Inilah alasan berdirinya Migo yang menyediakan konten 30 kali lebih cepat dari konten biasa dan tidak perlu menggunakan ekstra kuota.

“Karena platform digital ini menyediakan konten hiburan, pendidikan dan asuransi. Terdapat 1000 titik warung Migo di Indonesia terutama Jawa barat. Migo bekerjasama dengan MNC grup untuk konten partner,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan dari Deputi perlindungan khusus anak Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI (Kemen PPPA). Ciput Purwianti menjelaskan perlunya perlindungan anak dari pengaruh negatif internet. Pasalnya, jaman sekarang ini tentunya anak- anak mulai terhubung dengan internet, itulah gaya hidup dan kebutuhan. “Mereka harus punya skill untuk melindungi diri dari media sosial. Guru dan orang tua wajib mendampingi dan melindungi mereka,” pungkasnya.

“Mari ciptakan ruang non digital untuk bersosialisasi yang benar,” tambahnya.

Agita Pasaribu founder Bullyid juga memaparkan tentang aplikasi Bullyid yang berkontribusi nyata untuk kesejahteraan digital anak.Di Indonesia, kata Dia, ada 170 juta internet user. Selama pandemi ini ada kenaikan 300 kasus negatif yang diakibatkan penggunaan internet yakni, berupa ancaman online, bullying, eksploitasi sexual yang menyebabkan korban mengalami depresi. Dampaknya menyebabkan kesehatan mental terganggu. “Oleh sebab itu, dianjurkan pengguna internet menggunakan internet secara bijak dan positif. Penggunaan internet secara berlebihan bisa menyebabkan insomnia. Dan anak- anak jadi tidak fokus belajar karena banyaknya aplikasi mobile phone,” ungkapnya.

Oleh karenanya, semua harus fokus dengan waktu, jangan berlebihan. Dengan menggunakan aplikasi Bullyid bisa fokus karena tidak bisa buka aplikasi lain saat belajar. Pengguna inrernet yang berusia 5-17 tahun di Indonesia sebanyak 25%. Penggunaan internet untuk memudahkan anak- anak belajar di rumah namun tak dapat dipungkiri, internet juga mempunyai sisi negatif bila tidak digunakan dengan bijak. Banyak ditemukan kejahatan/ pelecehan sexual secara daring.

“Sehingga sangat diperlukan perlindungan dan pendampingan anak di ranah daring serta literasi digital perlindungan anak,” tandasnya.(SR)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed