Oleh : Zainal A Siauta
Kemajuan sebuah daerah sangatlah elastis dengan infrastruktur pembangunan dan pemanfaatan sumber daya alamnya yang potensial, dengan melihat pola pertumbuhan dan perekonomian dengan parameter kesejatraan masyarakat yang akan mendukung kemakmuran di masa depan.
Tentunya setiap generasi menginginkan adanya sebuah perubahan yang mendominasi pada masanya di bandingkan masa sebelumnya, dalam hal demikian setiap generasi bertanggung jawab atas bentuk perubahan sosial, ekonomi, dan politik dengan mempelajari pola – pola tersturktur dan sistematis yang nantinya menjamin kehidupan yang layak.
Pada 4 november 2025 kemarin Indonesia berkomitmen menjaga stabilitas lingkungan dan pembangunan berkelanjutan yang bertempat di Rio Dejanito Brazil. Kerja sama terbaru antara Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia dan The Royal Foundation of The Prince and Princess of Wales di Rio de Janeiro menjadi bukti konkret langkah tersebut.
Jika melihat Langkah tersebut maka sudah pastinya indoensia berkomitmen dan turut andil dalam mengahadapi krisis iklim dan maraknya kerusakan lingkungan hidup. Tetapi apakah hal ini sejalan dengan konsep pengelolaan sumber daya alam yang ada di Indonesia.? Inilah yang menjadi pertanyaan dan tantangan besar yang akan dihadapi kedepannya.
Pertumbuhan dan pembangunan ekonomi yang mengandalkan ekspoloitasi sumber daya alam ( natural resource ) yang berorientasi terhadap capital ekonomi bukan hanya memberikan dampak positif tetapi juga memberikan dampak negative, maka sudah dipastikan kita membutuhkan strategi pembangunan ekonomi yang baru dengan konsep berkelanjutan yang diceruskan oleh Herman Dealy dan kawan – kawan untuk mengkritik teori ekonomi klasik.
Maluku yang dikenal sebagai daerah kepulauan yang menyimpan berbagai kekayaan alam tentunya memiliki tantangan tersendiri dalam konsep pengelolaan sumber daya alamnya, kita seharusnya menyadari penuh bagaimana pemanfaatan sumber daya alam kita agar menjadi peluang baru, bukan malah sebaliknya menjadi ancaman baru. Saat ini maluku masi menduduki peringkat ke 4 provinsi termiskin di Indonesia, untuk membenahi hal demikian maka sudah pastinya membutuhkan kolaborasi dari berbagai elemen untuk sama – sama menunjang kesejahteraan masyrakat, mahasiswa sebagai partisipasi aktif dalam pembangunan SDM maupun SDA harus memberikan perhatiannya terhadap masa depan maluku.
Masa Depan SDA Maluku
Sumber daya alam merupakan sebuah senjata yang dimiliki sebuah wilayah untuk dikelola guna mendukung kebutuhan manusianya, dalam hal kebutuhan manusia yang tidak terbatas dan sumber daya alam yang terbatas maka sudah barang tentu konsep pengelolaan sumber daya alam harus memperhatikan aspek moral dan etis agar tidak terjadi kelangkaan (scarcity), pemahaman inilah yang menjadi asal muasal lahirnya teori ekonomi.
Maluku sebagai wilayah kepulauan menyimpan benyak sekali sumber daya alam yang dapat dikelola secara baik dan benar guna mendukung tumbuhnya perekonomian yang sustanaible atau yang disebut dengan development sunstanaibility, potensi sumber daya alam maluku dalam sektor kelautan sangat melimpah, laut maluku menjadi salah satu biodervitas dunia dengan menyimpan berbagai jenis ikan dan biota laut yang akan memberikan nilai tambah jika dikelola secara baik dan berkelanjutan.
Kontribusi perikanan maluku mencapai 37 % dari total produksi ikan nasional, menurut data Kementrian Kelautan dan Perikanan potensi perikanan maluku mencapai 3,9 juta ton per tahun. Belum lagi kekayaan sumber daya alam Maluku yang lain seperti minyak bumi, gas bumi, dan mineral, pulau–pulau di Maluku menyimpan berbagai deposit nikel, emas, dan tembaga yang dapat dikelola dengan baik dan benar, belum lagi sektor pariwisata Pertanian dan lain lain yang akan menjadi senjata untuk provinsi maluku.
Disisi lain dengan kekayaan sumber daya alam maluku yang berlimpah telah menjadi sorotan tersendiri bagi negara, proyek stategis nasional (PSN) Blok Masela yang berada di perairan maluku kini menjadi objek penafsiran dari berbagai kalangan. Dengan masi menduduki peringkat termiskin di Indonesia,
Proyek Blok Masela di harapkan dapat menjadi peluang ekonomi yang dapat meningkatkan Pruduk Domestik Regional Bruto (PDRB) Maluku nantinya dengan mencetak sekitar 30.000 lapangan pekerjaan, dengan memproduksi 9,5 juta metrik ton LNG per tahun, gas pipa sebesar 150 juta kubik per hari dan 35.000 barel kondensat per hari. Yang nantinya dapat menjadi lumbung energi nasional dan penopang perekonomian Indonesia.
Tetapi hal demikian menjadi tantangan yang akan di hadapi maluku, proyek blok masela sudah pastinya menjadi ancaman terhadap biota laut jika tidak dikelola secara berkelanjutan, kehadiran blok masela sebagai lumbung migas memberikan kekhawatiran terhadap masa depan ekologis di perairan Kabupaten Kepulauan Tanimbar, sehingga proyek strategis nasional ini harus ditinjau Kembali berdasarkan regulasi dan tata cara pengelolaannya.
Eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan tentu akan menjadi ancaman baru terhadap masa depan Maluku.
Kita memahami betul bahwa dalam tata Kelola sumber daya alam yang berkelanjutan dapat menunjukan kemandirian masyarakat, hal inilah yang seharusnya didorong dengan mengandalkan kecakapan teknologi dalam mendukung produksi energi dan mineral di perairan maluku. kenapa kita tidak mencoba pemanfaatan SDA dengan memfokuskan pembangunan yang lebih inklusif dengan mengandalkan teknologi sebagai acuan energi terbarukan.
Penguatan Sumber Daya Manusia
Tentu dalam mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan guna menjemput masa depan sumber daya alam maluku, bukanlah persoalan teori dan omongan semata, melainkan membutuhkan peranan aktif berbagai elemen dalam menghasilkan kualitas SDM yang bermutu serta kompeten dan bertanggung jawab atas keberlangsungan kehidupan di masa depan, dengan melimpahnya sumber daya alam maluku saat ini jika tidak dikelola secara baik dan benar akan menjadi titik balik kehancuran maluku di masa depan.
Dinamika arus politik nasional ke daerah kadang menjadi hambatan, mahasiswa sebagai aktor yang dapat mempengaruhi ruang publik tentunya mempunyai posisi yang sangat krusial dalam menentukan bagaimana masa depan sumber dayaa alam maluku kedepannya, agar nantinya kebijakan dengan kebutuhan masyarakat dapat beriringan dan berkeadilan.
Dengan jalan. Critical thingking yang ada pada mahasiswa dapat menjadi penghubung antara kebijakan, harapan dan kebutuhan masyarakat dengan menawarkan solusi untuk pemanfaatan sumber daya alam kedepan dengan konsep sustainability. (**)











