Jakarta, JNcom — Ketua Kaukus Muda Indonesia (KMI), Edi Homaidi, menyatakan apresiasi terhadap peluncuran Kartu Hijau BSI dan program BSI Scholarship, yang dinilai sebagai bentuk konkret komitmen Bank Syariah Indonesia (BSI) dalam mendukung keuangan inklusif dan pembangunan berkelanjutan berbasis nilai-nilai Islam.
“Langkah BSI ini bukan sekadar inovasi produk, tetapi perwujudan dari tanggung jawab sosial dan keberpihakan pada masa depan generasi muda serta keberlanjutan lingkungan. Kartu Hijau dan program beasiswa ini memiliki nilai strategis dalam memperluas akses keuangan sekaligus mendukung SDG’s 2030,” ujar Edi Homaidi di Jakarta, Sabtu (28/6).
Kartu Hijau BSI, yang diluncurkan di ajang BSI International Expo 2025, merupakan kartu debit berbasis digital dengan fitur penghitung jejak karbon (carbon footprint) dan insentif penggunaan pada transaksi ramah lingkungan, seperti transportasi umum dan pembelian produk eco-friendly. Sementara itu, BSI Scholarship merupakan program beasiswa dengan total nilai puluhan miliar rupiah yang ditujukan untuk mahasiswa berprestasi dari keluarga tidak mampu di seluruh Indonesia.
Menurut data yang dihimpun, lebih dari 100.000 transaksi Kartu Hijau terjadi dalam tiga hari pertama peluncuran, dan sekitar 5.000 mahasiswa telah mendaftar untuk program beasiswa tersebut sejak dibuka secara daring pada 25 Juni 2025. “Antusiasme ini menunjukkan bahwa masyarakat, terutama generasi muda, sangat membutuhkan ekosistem keuangan yang inklusif dan berbasis nilai,” tambah Edi.
Edi juga menyoroti bahwa peluncuran ini sejalan dengan prinsip keuangan syariah yang berlandaskan pada maqashid syaria, yakni menjaga akal, harta, jiwa, keturunan, dan lingkungan. “Kombinasi antara teknologi finansial, pendidikan, dan keberlanjutan adalah jawaban atas tantangan dunia perbankan syariah hari ini: bagaimana menjadi relevan secara sosial dan responsif terhadap krisis iklim serta kesenjangan akses pendidikan,” jelasnya.
Dalam perspektif ekonomi politik, KMI menilai inisiatif ini penting untuk mendorong institusi keuangan syariah agar lebih proaktif menjawab tantangan global. Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia harus menjadi pelopor dalam membangun sistem keuangan yang berkeadilan dan berkelanjutan, bukan hanya profit-oriented.
Edi juga mendorong agar BSI tidak berhenti pada program simbolik, tetapi terus memperluas cakupan green financing dan social impact banking, termasuk mendukung pendanaan untuk UMKM ramah lingkungan, infrastruktur hijau, dan program literasi keuangan berbasis pesantren serta komunitas akar rumput.
“Kaukus Muda Indonesia akan terus mengawal agar semangat hijau ini tidak berhenti di seremoni, tetapi menjadi arah gerak strategis perbankan syariah nasional,” tegasnya. (*)











