May 21, 2024

Jakarta, JNcom – Industri Fintech P2P Lending terus berkembang pesat, namun, masih terdapat stereotip yang memengaruhi peran perempuan di dalamnya. Menurut laporan dari Female Founders Fund, perusahaan yang didirikan oleh perempuan hanya mendapatkan kurang dari 3% dari total modal ventura yang diberikan. Fakta-fakta seperti ini mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh perempuan dalam industri Fintech, termasuk tingkat keterwakilan yang rendah di tingkat eksekutif dan posisi kepemimpinan.

Chief Business, Legal, and Compliance Officer Rupiah Cepat, Yolanda Sunaryo menilai bahwa perempuan memiliki peran penting dalam industri P2P lending. Oleh karena itu, melalui momentum Hari Kartini Rupiah Cepat ingin melibatkan para stakeholder perempuan yang berkarier di Fintech P2P Lending serta sebagai sarana edukasi kepada masyarakat mengenai tantangan dan suka duka menjadi perempuan berkarier di bidang fintech P2P lending.

“Dalam era yang semakin maju ini, peran perempuan dalam mengelola keuangan telah menjadi semakin penting. Kami percaya bahwa Inklusi keuangan memegang peran penting dalam memberdayakan perempuan secara finansial. Dengan akses yang lebih luas terhadap produk dan layanan keuangan, perempuan dapat membangun tabungan, mengelola investasi, dan mengurangi risiko keuangan. Ini bukan hanya tentang kesetaraan, tetapi juga tentang menciptakan kesempatan yang merata bagi perempuan untuk membangun kemandirian yang lebih kuat dan lebih inklusif untuk masa depan yang lebih baik bagi semua,” ujar Yolanda Sunaryo, dalam acara media gathering bertema “Mengatasi Stereotip: Peran Perempuan dalam Transformasi Fintech P2P Lending,” di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan, Selasa (30/4/2024).

Ketua Umum AFPI terpilih periode 2023-2026 Entjik S. Djafar menegaskan bahwa masyarakat harus membedakan antara fintech dengan pinjol. Menurutnya, fintech merupakan Peer-to-peer (P2P) Lending Service yang memiliki izin OJK dan beretika serta diatur oleh OJK.

“Kami semuanya diatur. Produk kami ada aturannya dan jika melanggar akan dicabut izinnya. Ironisnya, setiap ada kejadian di pinjol, kami selalu ikut menjadi korban. Dan ketika ditelusuri di lapangan, kami tidak terbukti terlibat,” ungkapnya.

Sementara itu, Public Relations Specialist Rupiah Cepat, Aulia Maghfiroh melihat bahwa acara ini diharapkan mampu menambahkan pandangan positif mengenai industri Fintech P2P Lending di sisi pemberdayaan perempuan.

“Melalui kegiatan ini, Rupiah Cepat juga berharap masyarakat dapat lebih memahami peran perempuan dalam industri Fintech P2P Lending dan merayakan kontribusi mereka yang jarang disorot. Selain itu, acara ini juga diharapkan dapat menginspirasi perempuan untuk terlibat lebih aktif dalam perkembangan teknologi keuangan,” pungkas Aulia Maghfiroh. (Red/my)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *