Berkontribusi Besar Bagi Negara, Sektor Sawit Perlu Ditingkatkan Tanpa Ekspansi

Jakarta, JNcom – Kontribusi dari sektor sawit yang mencapai triliunan rupiah masih menyisakan masalah terkait deforestasi dan emisi karbon yang seringkali menjadi sorotan publik karena dinilai mengganggu lingkungan. Kondisi ini diakui oleh peneliti senior Center for International Forestry Research (CIFOR), Prof Dr Herry Purnomo saat ditemui disela-sela kegiatan workshop nasional ke-3 berjudul “Penguatan Pencapaian Kelapa Sawit Berkelanjutan di Indonesia untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat dan Menghadapi Krisis Iklim”, Kamis (11/1/2024) di hotel Borobudur Jakarta.

“Sawit itu ada aspek yang bagus karena kontribusinya mencapai triliunan, disisi lain juga ada masalah terkait deforestasi dan emisi karbon. Kita berusaha di masing-masing yurisdiksi itu agar tetap menjadikan sawit sebagai komoditas unggul saat ini dan ke depan ditengah konsen dunia terhadap perubahan iklim,” ujar Herry Purnomo.

Sebagai langkah konkret agar sawit tetap unggul, kata Herry, pihaknya bersama stakeholder dan pemerintah daerah setempat menyusun langkah-langkah, aksi dan monitoring apa saja yang harus dilakukan agar sawit kita tetap unggul.

“Sengaja kita menggunakan pendekatan yuridisdiksi untuk memastikan ada yang bertanggung. Melalui pendekatan yuridisdiksi walaupun mengurangi deforestasi, tetapi disisi lain tetap meningkatkan ekonomi. Kan tidak harus deforestasi kita kurangi, ekonomi turun. Kita harus banyak melakukan aksi-aksi yang berhubungan meningkatkan produktivitas,” jelas Herry.

Dalam workshop tersebut, lanjut Herry, terungkap bahwa semua pihak sepakat ke depan kita ingin mengurangi emisi, pendapatan naik, dan juga memastikan sawit kita bisa menghadapi kebijakan EUDR bahwa sawit itu harus legal, tidak terkait deforestasi dan bisa ditelusuri darimana dihasilkan mengingat Eropa merupakan ekspor terbesar sawit kita.

“Terkait dengan lingkungan banyak direpresentasikan dengan deforestasi, harapannya jelas deforestasi menurun dan di Indonesia sendiri sudah menurun. Di masa pemerintahan Jokowi menurun 500 ribu hektar pertahun sekarang tinggal 104 ribu, jadi deforestasi selama 10 tahun tinggal 20%. Tetapi data kita dari 104 ribu, 70% diantaranya sektor sawit,” ungkapnya.

Pembahasan sawit, tambah Herry, sangat penting karena sawit memiliki peranan besar didalam peningkatan ekonomi khususnya di daerah. “Kita tidak ingin sawit kita berguguran karena masalah lingkungan. Kita ingin sawit kita tetap berjaya, tetapi masalah lingkungannya langkah demi langkah bisa diatasi. Artinya ekspansi tidak harus dilakukan tetapi produktivitas bisa meningkat,” pungkasnya. (Red/my)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *