May 18, 2024

Salatiga, JNcom – Pesta Demokrasi yang diwujudkan melalui Pemilihan Umum sangat berpotensi Agama dijadikan alat propaganda untuk menarik simpatik publik. Tragisnya pahan paham agama yang sesat justru berbuntut pada memecah belah keutuhan bangsa dan negara yang selama ini telah tertata

Gus Miftah dalam Safarinya menggunakan lebel “Seribu Kyai Kampung” acara yang dihadiri para Kyai/ulama serta para Santri berlangsung di Ponpes Al Fallah – Pabelan Kabupaten Semarang pada Rabo siang dini hari.

Dalam bagian ceramahnya, Gus Miftah menekankan dewasa ini perlunya keberlangsungan Ahllul Sunnah Wal Jamaah dengan kometmentnya hingga saat ini. Karena menurutnya menjadi tantangan Nahdatul Ulama (NU) kedepan yang semakin berat.

Ahlull Sunnah dewasa ini semakin berat. Kenapa, karena di Arab Saudi telah di cabut Undang Undang Perempuan tidak memakai Hijab. Ini undang undang yang dibuat oleh Muhamad bin Salman putra Mahkota Saudi Arab dengan Syeh Assawud dan Syeh Abdullah.

“Pemerintah Arab Saudi telah mencabut peraturan perempuan berhijab ini kebijakan Muhamad bin Salman dengan tentunya Syeh Abdullah ada konsensus dengan Syeh Assawud sebagai pemegang kendali pemerintahan dan Syeh Abdullah pemegang kendali Agama nya. Naah , dengan di cabutnya kebijakan itu maka tanda tanda kematian paham Wahabi di arab Saudi,” tandasnya.

Tapi kabar buruk datang ketika Wahabi menuju kematian , maka Wahabi keluar dari Arab Saudi mencari lahan subur seperti di Indonesia. Maka ini akan menjadi tantangan Nahdatul Ulama (NU) terutama para kyai kyai kultural yang selama ini menjadi Angktan darat untuk mempertahan kan Ahlull Sunnah Wal Jamaah kearena ini akan menjadi gempuran Wahabi. Maka disini penting ketika persoalan kebangsaan tidak bisa lepas dari persoalan keagamaan.

Wahabi melalui missi keagamaan, maka kita membutuhksn konsrp negara secara tegas bisa menolak paham Wahabi sehingga missi NU dalam berkebangsaan bisa terjaga. Apa itu missi kebangsaan. Yaitu peran NU menjaga kesatuan Republik Indonesia

Sebagai orang PBNU bisa diartikan (P) adalah Pancasila (B) Bhineka Tunggal Ika (N) NKRI dan (U) adalah Undang undang 1945. Maka gempuran Wahabi akan menjadi besar manakala missi kebagsaan NU tidak kita jaga. Maka disini para kyai tidak boleh apatis dan skiptis terhadap berlangsungnya negara.
Maka jika ada yang ngomong kyai kyai tidak perlu ngurusi politik itu suara orang orang paham Wahabi.

Dalam ceramahnya, Gus Miftah juga menyenggol nama Prabowo dan Gibran. Menurut nya dukungan pribadinya ke Prabowo demi berlangsungnya menjaga keutuhan NKRi serta pembangunan infrastruktur yang telah dibangun masa kepemimpinan Presiden Jokowi sepuluh tahun terakhir ini.

Sementara itu H. Duco (Bupati Kendal) yang turut hadir dalam acara Orasi Kebangsaan dalam statment nya menyinggung tentang keberhasilan Gribran selama menjadi Walikota Solo selama kurun tiga tahun menjabat Walikota Solo.

” Keberhasilan mas Gibran menjadi Waliota Solo tanpa merepotkan Anggaran pusat maupun daerah ( APBD) juga termasuk mendirikan Masjid yang cukup Megah tanpa menggunakan anggaran pemerintah” kata Duco

Dalam konsepnya jika Gibran menjadi Wakil Presiden, dirinya akan Menaikan intenaif gaji guru Agama serta
Dana Abadi Pesantren . Menurut H. Duco, memang Gibran orang yang jarang bicara banyak bekerja.

Ditempat terpisah , Team Aksi Politik untuk pemenangan Prabowo di kota Salatiga, Brigjend Purn Untung Waluyo menanggapi positip di selenggarakan Ora Kebangsaan. Hal ini menurut Untung sebagai benteng NKRI melalui media Agama dengan nuansa Kebinekaan.

“Saya sangat setuju acara seperti ini tidak hanya diselenggarakan di lingkungan Ponpes namun juga di selenggarakan secara unum agar generasi muda tidak terjebak dalam paham kekanan atau ke kiri kirian” pungkas Untung. (NANO)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *