April 12, 2024

Jakarta, JNcom – Pakar Lingkungan Universitas Indonesia Mahawan Karuniasa mengatakan, pemimpin Indonesia perlu memenuhi kriteria pro-kesejahteraan ramah lingkungan atau memiliki sustainability quotient yang tinggi mengingat kondisi Bumi kian mengkhawatirkan.

“Para ilmuwan baru saja menyelesaikan sembilan indikator kondisi bumi yang aman bagi manusia, namun enam di antaranya telah melampaui batas aman di luar level safe operating space termasuk perubahan iklim, polusi, dan merosotnya keanekaragaman hayati,” ujarnya dalam sebuah dialog bertajuk Mencari Figur Pemimpin Pro-Lingkungan di Jakarta, Kamis.

Mahawan memaparkan, beberapa kriteria pro-kesejahteraan ramah lingkungan mulai dari mampu menjaga kedaulatan sumber daya alam tidak terbarukan dengan menutup kran ekspor, menghemat, dan mengutamakan kepentingan dalam negeri.

Kriteria lainnya adalah mengendalikan sumber daya alam terbarukan, seperti menciptakan swasembada pangan, mempercepat penyediaan energi bersih, dan mengendalikan jumlah penduduk yang terus membengkak.

Selanjutnya, pemimpin baru mesti mampu menghadapi triple planetary crisis dengan memangkas emisi gas rumah kaca dan meningkatkan adaptasi terutama kelompok rentan iklim, merestorasi dan menjaga ekosistem daratan serta lautan, hingga penegakan hukum pencemaran lingkungan.

“Selain itu mampu menghadapi krisis lainnya, yaitu perubahan sistem lahan, air, dan siklus kimia terutama fosfor dan nitrogen dengan mengendalikan tutupan dan perubahan penggunaan lahan melalui tata ruang dan pengelolaan daerah aliran sungai serta pengendalian pupuk pertanian dan limbah tambang,” kata Mahawan.

Lebih lanjut dia menyampaikan bahwa kriteria pemimpin baru lainnya harus mampu menciptakan konsep kesejahteraan dan pembangunan sumber daya manusia karena saat ini kesejahteraan cenderung diukur dengan ekonomi, namun kenyataannya tidak sejalan dengan tingkat kebahagiaan masyarakat yang ingin dicapai.

Kemudian, pemimpin baru juga harus bisa membangun sistem politik dan ekonomi yang tidak merusak lingkungan, serta membangun etika bumi yang mendorong pemangku kepentingan menjaga kehidupan yang harmonis dengan alam.

“Tidak ada pilihan lain bagi Indonesia untuk menjaga kelestarian bumi karena itu menjadi syarat negara maju. Jadi, semua pihak perlu mendorong agar pemimpinnya mengembangkan kapasitas untuk memiliki kriteria pemimpin yang pro kesejahteraan ramah lingkungan,” kata Mahawan.

Peneliti Iklim dan Kehutanan Universitas Bina Nusantara, Danu Birma mengutarakan minimnya sense of crisis dari para pemimpin.

Sedangkan, Peneliti dan Analis Senior Indikator Politik Indonesia, Kennedy Muslim menyoroti kesadaran lingkungan pemilih muda yang semakin peduli isu lingkungan, namun masih terbatas pelibatannya dalam membangun gagasan kebangsaan terutama untuk membangun masa depan. (Barley)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *