May 18, 2024

Jakarta, JNcom – Pakar Lingkungan Universitas Indonesia sekaligus CEO Environment Institute, Mahawan Karuniasa berpendapat bahwa Indonesia sudah seharusnya memiliki pembangkit listrik tenaga air yang terintegrasi dengan konservasi ekosistem daratan. Hal tersebut disampaikannya dalam seminar Integritas Transisi Energi dengan Lonservasi Ekosistem Daratan yang dilakukan secara virtual, Selasa (10/10/2023).

Seminar yang berlangsung di ruang Audotorium fakultas kedokteran IPB menghadirkan narasumber prof Dr Arif satia SP Msi (Rektor IPB), Dr Yudi setiawan SP M Snu Sc (PPLH IPB), Prof Dr Husni Krisnawati S Hut Msi (staf Ahli Menteri Bidang energi KLHK), Dr Marwan Karuniasa (Founder CCO enviorment institute), Prof Jatna Suprijatna (Universitas Indonesia), Dr Retno Gumilang Dewi (ITB), Dr Nyoto Santoso (IPB), Hedi Susilo (PLTA Batang Toru).

Sudah tidak dapat ditawar lagi bahwa berdasarkan Paris Agreement untuk tidak melampaui 1,5″ Celsius sehingga perlu upaya mitigasi agar emisi global tidak melampaui 33 Giga ton CO,e melalui transisi energi, termasuk di Indonesia.

Indonesia memasuki dekade dominasi emisi sektor energi, artinya sebagian besar emisi gas rumah kaca nasional berasal dari sektor ini yang meliputi tiga sumber utama yaitu pembangkit listrik, transportasi, dan industri. Khusus untuk pembangkit listrik, berdasarkan dokumen LTS-LCCR (Long Term Strategi for Low Carbon and Climate Resilience) strategi utama pemangkasan emisi dilakukan dengan coal phase down, penggunaan gas, penerapan teknologi Carbon Capture and Storage, serta peningkatan pembangkit listrik bertenaga air, angin, matahari, dan panas bumi.

Staf Ahli Menteri KLHK, Haruni Krisnawati menyatakan bahwa transisi energi diperlukan dalam implementasi NDC (Nationally Determined Contribution) bersamaan dengan pencapaian target FOLU Net Sink 2030, sehingga implementasi NDC dilaksanakan sesuai komitmen Indonesia dan strategi implementasi NDC yang telah disusun. Sementara itu Jatna Suprjana menyampaikan brodiversity loss menjadi masalah global termasuk Indonesia sebagai negara mega biodiversity, sehingga upaya transisi energi mesti sinergi dengan konservasi ekosistem, seperti pengembangan PLTA Batang Toru dengan konservasi Orangutan Tapanuli yang tersisa 200 ekor.

Dalam perspektif spasial, sebenarnya rencana PLTA Batang Toru sebagai contoh, dengan beban puncak 510 Mega Watt, memberikan usikan bentang lahan yang minim, termasuk satwa liar, karena waterway dari dam intake ke power house dibangun dibawah tanah, sangat berbeda dengan pembukaan lahan besar-besaran untuk pertanian dan perkebunan. Kehati-hatiannya justru pada ekosistem sungainya yang paralel dengan waterway karena implikasi perubahan perilaku debit airnya berpengaruh pada ekistem sungai, kata Mahawan menanggapi perkembangan PLTA Batang Toru. (Barley)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *