by

Golkar Tawarkan Lebih dari Dua Poros Capres

-Politik-163 views

Jakarta, JNcom-Pemilihan Presiden (Pilpres) 2004 masih menggunakan pola lama dengan mengandalkan hasil survey popularistas tinggi bagi calon Presiden dan calon wakil berasal dari luar partai. Kondisi ini tentunya akan berpotensi, calon tidak akan paham atas visi misi partai itu sendiri. Apalagi yang mencalonkan nanti partai koalisi yang berbeda-beda platform.

Demikian pernyataan Idris Laena Ketua DPP Partai Golkar yang juga Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI di Jakarta, Senin (29/8/2022).

Menurutnya, sebaliknya, apabila calon adalah dari kader internal partai maka paling tidak akan sangat mudah memahami platform perjuangan partainya, dan lebih mudah memahami platform gabungan koalisi partai yang akan mengusungnya.

Menurut mantan tim sukses Jokowi asal Riau ini, dirinya tidak mempersoalkan poros capres lebih dari dua. Dengan adanya tiga atau empat poros calon Presiden atau calon wakil Presiden. Maka tidak akan melahirkan polarisasi yang tajam antar pendukung dan bisa mencegah pembelahan antar anak-anak bangsa. Semua ini belajar dari Pilpres sebelumya 2015 dan 2019., tambah Ketua Satkar Ulama Indonesia ini.

Tidak hanya itu, imbuhnya, dengan makin kuatnya masyarakat sipil bahkan dukungan kebebasan anak anak muda hari ini. Pimpinan parpol sudah saatnya mengedepankan adu visi misi gagasan baru, atau program yang telah dijalankan sehingga bisa melanjutkan program yang digagas oleh Presiden sebelumnya. Dengan demikian maka kesinambungan pembangunan nasional akan tetap berlanjut oleh Presiden yang baru kelak.

Sejumlah Capres hasil survey dengan popularitas tinggi sekarang ini rame rame melamar ke partai politik agar bisa diusung di Pilpres 2024. “Karena pintu masuk menjadi calon Presiden cuma bisa dicalonkan oleh partai politik atau gabungan partai politik”, kata Idris.

Mantan tangan kanan Jokowi pada Pilpres 2019 lalu ini bahkan menyatakan, masuk akal juga apa pendapat Presiden Jokowi bahwa elektabilitas tinggi tidak dapat menjamin bisa nyapres adalah pendapat yang normatif dengan asumsi jika capres tidak punya partai pengusung sendiri.

‘Mulai hari ini saya menghimbau agar partai politik demi atas pentingnya kesadaran demokrasi, agar dapat mendorong kader sendiri untuk di majukan sebagai calon Presiden maupun calon wakil Presiden pada Pemilu 2024 yang akan datang,” tegasnya.(Wan)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed