by

Raysha dan Sunrise Art Gallery: Sukses Gelar Painting Exhibition

Jakarta, JNcom – Pelukis remaja putri yang akrab disapa Raysha ini, memiliki nama lengkap Raysha Dinar Kemal Gani. Putri bungsu dari Prita Kemal Gani dan Kemal Effendi Gani (Pemimpin Redaksi SWA Magazine).

Raysha Management Team dan Sunrise Art Gallery menghadirkan A Charity Art Exhibition, bertajuk Dare to Dream, Dare to Shine & Dare to Share di Sunrise Art Gallery yang berlokasi di Fairmont Hotel Jakarta dalam rangka World Autism Day yang setiap tahunnya diperingati pada tanggal 1 April.

Ibu Prita Kemal Gani, MBA, MCIPR, APR selaku Founder & CEO LSPR Communication and Business Institute saat dijumpai jurnalis JNcom mengatakan, pameran yang digelar ini berlangsung satu bulan mulai hari ini 4 Maret hingga 4 April 2021. Makna dari tema ini dalam sekali karena Raysha ini autistik non verbal dan cukup berat autistiknya.

“Raysha ini seperti kita semua, berkeinginan punya mimpi-mimpi, dipuji, diberi apresiasi, disukai dan juga keinginan untuk berbagi human being hal yang biasa dari manusia,'” ucapnya di Fairmont Hotel Jakarta, Kamis (4/3/2021) .

Dikatakan Ibu Prita, ketiga hal inilah yang kita terjemahkan didalam pemeran ini. Seluruh hasil dari pameran penjualan lukisan ini diperuntukkan untuk membantu anak-anak berkebutuhan khusus, khususnya autistik dari keluarga prasejahtera.

“Mereka bisa therapy, bisa mendapatkan bimbingan konsultasi untuk keluarganya, dan bisa pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus,” ujarnya.

Lebih jauh Ibu Prita mengungkapkan, Raysha sudah melukis dalam setahun. Anak-anak autistik itu selalu melakukan sesuatu seperti ritual. Raysha kalau sudah melakukan ini terus dan terus. Jadi selama ini sudah ada 56 minggu lakukan melukis.

Dari occurator Raysha cukup 23 lukisan saja yang bisa dipamerkan, sisanya belum bisa dipamerkan. Dari 23 lukisan tersebut nantinya setelah dijual dapat incomenya hanya sekali, tapi kan kebutuhan theraphy, kebutuhan pendidikan itu akan berjalan terus.

Raysha menterjemahkan hasil dari lukisan nya tersebut dibuat merchandise seperti yang diperlihatkan kepada para jurnalis seperti kaos, buku, tas bag, dompet, masker, tempat pencil, hand sanitizer dan lainnya di buat merchandise dari barang-barang yang dibutuhkan sehari-hari.

Hasil penjualan merchandise tersebut buat mendanai yayasan atau rumah autism dimana anak-anak autis disitu dari keluarga prasejahtera. Ibaratnya mereka datang kesitu tidak bayar tentu harus ada donaturnya yang salah satunya Raysha.

Merchandise tersebut bisa dilihat di websitenya, tokopedia, shoppee, air esia plaza, Grand Indonesia, Boutique Alleira dan juga di Fairmont ada produk-produk Raysha.

Raysha atau anak-anak autistik ini ada tiga hal kalau dianggap orang ini sudah bisa mandiri atau sudah bisa keluar dari autistiknya istilahnya disini adalah unlock.

Yang pertama mereka harus bisa mandiri, pengertian dari mandiri sesungguhnya dia sudah bisa kemana-mana sendiri, bisa pergi sendiri, bisa menyetir mobil, bisa masak itu namanya mandiri.

Kedua, bisa menolong dirinya sendiri. Dia tahu ada bahaya, dia tahu ini tidak boleh. Ketiga, dia harus bisa menolong orang lain.

Point satu kemandirian dan point dua menolong dirinya, Raysha belum bisa bukan berarti point ketiga dia belum bisa. Point ketiga yang didulukan dengan bantuan orang tuanya, Raysha pun sudah dapat berbagi.

Yang penting dari ketiga point ini sudah kita lakukan. Kita sebagai orang tua sudah kita bantu. Karena diharapkan sudah bisa ketiga point tersebut. Kita sebagai orang tua tidak selamanya mendampingi Raysha, semoga Raysha bisa mandiri, hidupnya bisa menjadi bermanfaat.

Saya sebagai orang tua tidak mau berfikir kendala-kendala saja yang dihadapi, hal-hal yang Raysha tidak bisa tidak mau saya fikirkan. Saya mau fikirkan hal yang Raysha bisa, supaya hal yang bisa tersebut bisa membantu hal yang tidak bisa.

Raysha mulai bisa melukis setahun lalu saat berusia 16 tahun. Raysha didiagnosa autistik sejak usia 2,5 tahun. Dengan indikasi adanya keterlambatan bicara dan berkembang, namun hal tersebut tidak menghentikan Raysha mewujudkan mimpi-mimpinya. Melalui lukisan yang ia ciptakan sebagai salah satu bentuk terapi motoriknya, membuahkan hasil seni dengan nilai karya yang tinggi.

Hebatnya, lukisan Raysha tidak hanya berdampak bagi dirinya, namun memberi kontribusi positif juga bagi teman-teman individu autistik lainnya dari keluarga pra-sejahtera.

Harga lukisan yang dipamerkan ini paling tinggi seharga Rp.3 juta. Gelar acara ini akan digelar tahunan dengan merchandise yang selalu baru.

Tempat pameran kali ini luar biasa dan prestigius sekali untuk Raysha. Nanti disini ada private quewing dari beberapa asosiasi, kemudian dari sekolah-sekolah dimana ada anak-anak yang berkebutuhan khusus supaya para guru dan orang tua bisa juga anaknya yang berkebutuhan khusus berprestasi.

Harapannya, kita berkonsentrasi saja ke hal yang bisa. kalau hal yang tidak bisa setiap hari nya itu ada. hal yang gak bisa itu bikin kita susah. Kita sebagai orang tua akan stress akan membuat kita tidak bisa apa-apa juga akan membuat anak ikut stress juga.

Banyak hal yang Raysha tidak bisa lakukan sebagai remaja di usia 17 tahun. Kalau dia bisa ini pasti dia bisa membantu ini.

Pemerintah saat ini dengan adanya berbagai program untuk anak berkebutuhan khusus sudah sangat membantu, tapi sebagai masyarakat dan warga negara yang baik saya rasa kita juga harus membantu pemerintah untuk juga langsung membantu.

Banyak kementerian/ lembaga yang membantu dan melayani anak berkebutuhan khusus dan juga butuh pemberdayaan masyarakat untuk melakukan hal ini. Kalau kita menunggu pemerintah sama seperti menunggu 3 point tersebut. Kita semua sama-sama saling bahu membahu tidak hanya dari segi financial, mungkin dari anak yang sudah keluar dari autistiknya bisa share ke orangtua lainnya.

Kesuksesan pameran lukisan ini, seolah mengulang keberhasilan jalinan kerjasama dengan Alleira Batik Grand Indonesia untuk product launching yang diselenggarakan sebelumnya, dan berhasil merangkul beberapa Yayasan penerima bantuan, seperti Rumah Autis dan Sahabat Anak.

Banyak yang tak menyangka karya-karya tersebut merupakan guratan kreativitas dari seorang Raysha, yang juga merupakan individu autistik dengan diagnosa severe autism. Melalui lukisan, Raysha membagikan perspektif yang tak biasa untuk dapat dinikmati oleh orang banyak.

Tujuannya adalah mengampanyekan keberadaan seorang Individu autistik yang berkomunikasi melalui beragam terapi, salah satunya melalui karya lukis.

Bersyukur dengan banjirnya perhatian dan dukungan dari keluarga, Raysha mendapatkan kebutuhan terapi yang layak sehingga dapat mewujudkan virtual painting exhibition pada saat perayaan ulang tahun ke-17 tahun pada bulan Januari lalu.

Dengan dukungan keluarga dan Raysha Foundation, acara tersebut sukses dan beberapa lukisan Raysha dikemas pula dalam bentuk merchandise yang dapat dibeli bebas oleh publik melalui platform e-commerce, atau dengan mengunjungi Sunrise Art Gallery dan Alleira Batik Indonesia. Melalui Raysha Foundation.(Guffe).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed