by

Wujudkan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Berbasis Masjid

-Nusantara-80 views

Jakarta, JNcom – Dalam mewujudkan program-program bangsa diperlukan bahasa agama ditengah masyarakat Indonesia yang mayoritas religius. Melalui andil peran Masjid Istiqlal diharapkan dapat mewujudkan pemberdayaan bagi perempuan serta perlindungan untuk anak.

“Isu perempuan dan anak merupakan isu yang kompleks, multisektoral, dan sangat berkaitan dengan cara fikir masyarakat. Oleh karena itu saya mengapresiasi Imam Besar masjid Istiqlal meluncurkan program untuk merubah cara pikir dan cara pandang masyarakat agar ramah dan responsif terhadap perempuan dan anak.” ungkap Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Bintang Puspayoga pada saat memberikan sambutan pada acara Penandatanganan Nota Kesepahaman antara Kemen PPPA dengan Badan Pengurus Masjid Istiqlal (BPMI) yang dihadiri oleh Imam Besar Masjid Istiqlal sekaligus Ketua Harian BPMI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar di Gedung Kementerian PPPA.

Menteri bintang berharap dengan adanya Nota Kesepahaman ini dapat meningkatkan efektivitas, koordinasi, dan kerjasama dalam pelaksanaan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

“Tidak hanya berhenti di dokumen semata tapi dapat mewujudkan kerja nyata kedepannya. Program yang akan diluncurkan BPMI mudah – mudahan menjadi inspirasi, tidak hanya di kalangan umat Islam saja namun juga dari umat-umat agama lain sesuai dengan agama dan budayanya,” Lanjut Menteri Bintang

Senada dengan Menteri Bintang, KH. Nasaruddin juga menyampaikan, program kerja Kemen PPPA sangat dekat dengan program Kerja BPMI, maka dari itu BPMI akan sangat serius memperhatikan permasalahan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, serta menjadikan masjid sebagai pusat pemberdayaan perempuan dan anak sehingga mampu menginspirasi rumah-rumah ibadah lain untuk melakukan hal yang sama.

Salah satu program BPMI adalah Pendidikan Ulama Perempuan. “Belum pernah ada pendidikan ulama perempuan secara khusus, yang ada adalah pendidikan kader ulama. Yang akan kita bikin di istiqlal ialah pendidikan kader ulama perempuan. Mukayatnya adalah perempuan. Banyak ulama tapi ulama perempuannya sangat-sangat langka. Kita ingin perempuan itu punya kekuatan intelektual untuk mengkaji kitab suci al-qur’an dan juga hadist,” ujar KH. Nasaruddin.

KH Nasaruddin menambahkan, selain pendidikan ulama perempuan, sejumlah program lain juga telah disiapkan guna mendukung ke penguatan keluarga.

“Kalau bahasa agama yang kita gunakan untuk pemberdayaan perempuan, saya sangat yakin akan sangat efektif. Bahasa agama ini sangat diperlukan oleh pemerintah dalam rangka mewujudkan program-program bangsa, karena warga negara kita ini relijius, dengan menggunakan bahasa agama maka efektivitasnya akan luar biasa. Insyaallah di eranya ibu Menteri kita akan saksikan suatu hal yang mungkin belum pernah sebelumnya. Tentu kita berharap semoga ini berhasil,” tutup KH. Nasaruddin

Adapun ruang lingkup dari Nota Kesepahaman ini adalah: (1). Percepatan pencapaian 5 arahan Presiden yang meliputi peningkatan peran perempuan dalam kewirausahaan, peningkatan peran ibu dan keluarga dalam pendidikan/pengasuhan anak, penurunan kekerasan terhadap perempuan dan anak, penghapusan pekerja anak, dan penurunan perkawinan anak. (2). pengarusutamaan gender dan pemenuhan hak anak dalam program masjid. (3). peningkatan kualitas dan kuantitas ulama yang responsif gender dan peduli hak anak, khususnya kader ulama perempuan yang menguasai keilmuan islam berbasis gender melalui pemahaman islam yang moderat. (4). penyediaan dan pertukaran data terpilah, statistik dan informasi berkaitan dengan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak berbasis masjid.(Guffe).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed