by

Survey PJJ Terhadap 2.320 Responden Jabodetabek Hasilkan Temuan

-Nusantara-163 views

Depok, JNcom – Sebanyak 2.320 responden berasal dari Pelajar dan Mahasiswa di Jabodetabek berhasil dilibatkan dalam sebuah penelitian terkait dengan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Peneliti PJJ, Mila Viendyasari mengatakan, survey yang didukung penuh oleh Tanoto Foundation terhadap responden terdiri atas 1819 responden peserta didik (siswa dan mahasiswa); 267 responden pengajar (guru dan dosen); serta 234 orang tua. Sementara penelitian menggunakan metode survey online, FGD dan Big Data selama periode September – November 2020.

“Penelitian menghasilkan tiga serial temuan, dimana untuk temuan pertama kami memfokuskan diri pada variable jenis pengetahuan, persepsi siswa/mahasiswa terhadap kompetensi pengajar, pemenuhan informasi dan gaya belajar (learning style),“ ujar Mila Viendyasari, peneliti PJJ dalam acara Webinar Nasional tentang Refleksi Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) dan Persiapan Studi 2021 yang diselenggarakan oleh Peneliti Universitas Indonesia, Jumat (11/12/2020).

Kegiatan yang bertajuk Rumpi Akbar 2021 ini diikuti oleh lebih dari 1.700 peserta, dimana 620 peserta mengikuti melalui sambungan Zoom dan sisanya melalui jaringan Youtube. Penelitian yang bekerjasama dengan Tanoto Foundation ini, menghadirkan Devie Rahmawati, Nadia Yovani, Mila Viendyasari, Indera R Irawati.

Nadia Yovani, Peneliti PJJ lainnya mengungkapkan, studi ini menemukan bahwa jenis pengetahuan yang banyak diperoleh peserta didik selama periode PJJ ialah Tacit Knowledge yaitu pengetahuan yang berasal dari pengalaman, dan hanya mampu dipahami oleh orang yang mengalaminya. Hal ini sejalan dengan temuan bahwa para pengajar lebih banyak menyampaikan materi dengan model konsultatif. Pengajar memainkan peran sebagai fasilitator dan motivator bagi peserta didik. Para pengajar sudah mampu memainkan peran sebagai pengajar yang sesuai dengan karakter pembelajaran jarak jauh.

“Penelitian ini menemukan bahwa para sebagian peserta didik, pengajar dan orang tua, sepakat untuk memilih pembelajaran offline kembali dilakukan selepas pandemi. Pengungkapan ini, peneliti analisa bukan karena PJJ adalah metode pembelajaran yang negatif. Namun, dibutuhkan waktu untuk mempersiapkan peserta didik agar terbiasa menjadi pembelajar aktif, yang tidak mengandalkan satu sumber. Tidak hanya itu, penelitian ini menemukan juga bahwa tidak semua peserta didik di setiap jenjang pendidikan, siap untuk melakukan PJJ. Mengingat banyak hal positif dari PJJ diantaranya peserta didik menjadi lebih bebas mengeksplorasi pemenuhan informasi, tidak kaku misalnya,” ungkap Nadia.

Sementara itu, Ketua Tim Peneliti PJJ, Devie Rahmawati menjelaskan, hasil temuan kualitatif mengungkapkan bahwa model konsultatif dengan konten pembelajaran yang bersifat tacit dinilai peserta didik sebagai proses yang tidak diterima sepenuhnya oleh peserta didik sebagai proses pembelajaran. Mereka merasa tidak seperti sedang menjalani studi. Temuan ini dapat dipahami, mengingat karakter PJJ yang mengharapkan peserta didik sebagai agen pembelajaran aktif. Sedangkan, sebelum PJJ, para peserta didik terbiasa menerima seluruh pengetahuan dari satu sumber pengetahuan, yaitu para pengajar. Para peserta didik belum terbiasa dengan model pembelajaran mandiri melalui PJJ.

“Temuan kualitatif mengungkapkan bahwa gaya belajar yang menekankan pada transfer konsep dan teori (reflektif), dinilai peserta didik membuat mereka menjadi merasa lebih lelah selama PJJ. Dari temuan ini, kami menilai bahwa peserta didik membutuhkan gaya belajar yang dapat membuat peserta didik aktif walau belajar di rumah. Kebutuhan ini dapat dipenuhi bila konten pembelajaran yang diberikan selama PJJ juga mengakomodasi pembelajaran sequensial, praktik. Hal ini yang menyebabkan para peserta didik mengakui bahwa mereka masih mengandalkan teman sebagai sumber pengetahuan. Mereka masih menyandarkan diri pada komunikasi lisan untuk belajar. Meskipun mereka generasi internet, literasi digital yang belum cukup, membuat tidak semua peserta didik mengetahui cara mengeksplorasi pengetahuan di dunia maya,” tambah Devie Rahmawati.

Indera Irawati, peneliti PJJ juga mengungkapkan, studi ini mendapati bahwa gaya belajar para peserta didik didominasi dengan gaya reflektif (58%) dan intuitif (52%). Reflektif mengacu kepada gaya belajar yang memikirkan materi dalam-dalam ketimbang mempraktekkannya. Sedangkan gaya intuitif mengacu pada upaya mempelajari konsep.

“Tidak hanya itu gaya belajar global, yaitu gaya yang mengacu kepada kemampuan untuk mengerti gambaran utuh secara jelas namun kabur untuk detil materinya, juga memperlihatkan persentase yang tinggi yaitu sebesar (72%). Serta gaya belajar yang menekankan pada gaya verbal, yaitu berdiskusi dengan sesama peserta didik, juga cukup besar (56%),” pungkas Indera Irawati. (Red)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed