by

Hari Ibu Bukan ‘Mother’s Day,, Saatnya Generasi Milenial Memaknai dengan Aksi Nyata

-Nusantara-147 views

Jakarta, JNcom – Peringatan Hari Ibu (PHI) yang akan jatuh pada 22 Desember seringkali dimaknai masyarakat khususnya generasi milenial sebagai mother’s day. Pergeseran makna PHI ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, mengingat Hari Ibu merupakan momentum pemantik semangat tidak hanya bagi para perempuan, tapi juga masyarakat khususnya generasi muda untuk bergerak bersama secara nyata meningkatkan kualitas hidup perempuan serta menjadi solusi dalam menghadapi berbagai persoalan terkait perempuan khususnya dalam menghadapi masa sulit pada situasi pandemi Covid-19 saat ini.

Wakil Ketua Panitia Umum Peringatan Hari Ibu Ke-92, Titi Eko Rahayu mengungkapkan pentingnya mengembalikan makna sesungguhnya dari Peringatan Hari Ibu tersebut. Titi menilai PHI merupakan momentum untuk mengenang semangat para perempuan luar biasa yang turut berjuang menentang penjajah, khususnya dalam memperjuangkan nasib perempuan dalam mendapatkan kesetaraan dengan laki-laki dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan menyuarakan pendapat di hadapan publik.

“Peringatan Hari Ibu tahun ini memaknai kembali semangat para perempuan untuk mengambil peran mengisi pembangunan dengan melakukan aksi solidaritas merespon pandemi Covid-19,” ujar Titi dalam acara Dialog dengan Media (Media Talk) dalam rangka Peringatan Hari Ibu Ke-92 dengan tema ‘Hari Ibu Bukan Mother’s Day’ secara virtual hari ini Kamis (11/12/2020).

Titi menambahkan, peringatan Hari Ibu tahun ini dikemas berbeda karena menyesuaikan dengan situasi pandemi yang dihadapi bangsa Indonesia dan berdampak besar pada kehidupan masyarakat.

“Kami melaksanakan kegiatan dan mengangkat tema dalam PHI Ke-92 menyesuaikan dengan situasi pandemi saat ini. Tema utama PHI yang akan kita usung sampai 2024 adalah Perempuan Berdaya, Indonesia Maju,” ungkap Titi.

Adapun sub tema yang diangkat dalam PHI ke-92 tersebut: (1) Perjuangan Perempuan Masa Kemerdekaan: Perempuan Pejuang– Perjuanganku Bagian Sejarah Perjuangan Bangsaku; (2) Perjuangan perempuan – Masa Kini: Perempuan – Inspirasiku untuk Kemajuan Bangsaku; (3) Perjuangan Perempuan di Era Tatanan Baru: Perempuan – Penyemangat dan Garda Terdepan di Era New Normal; (4) Kemitraan Perempuan dan Laki-laki untuk 5 Prioritas Kemen PPPA: Perempuan dan Laki-laki – Bersama dan Berbagi untuk Negeri.

Pada acara tersebut, Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI), Giwo Rubianto menekankan pentingnya menjalin kedekatan dengan generasi muda melalui sosialisasi dan edukasi terkait makna sebenarnya dari Peringatan Hari Ibu.

Menurut Giwo media massa juga berperan penting dalam menghadirkan isu menarik terkait makna Hari Ibu sehingga akan lebih mudah diterima masyarakat khususnya generasi milenial.

Peringatan Hari Ibu hadir melalui keputusan Kongres Perempoean Indonesia III di Bandung pada 22 Desember 1938. Peringatan ini diharapkan menjadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk mengenang dan menghargai perjuangan perempuan Indonesia dalam merebut dan mengisi kemerdekaan.

“Peringatan Hari Ibu lebih dari sekedar mother’s day. PHI adalah momentum kebangkitan bangsa, penggalangan rasa persatuan dan kesatuan serta gerak perjuangan perempuan dalam berbagai sektor pembangunan untuk Indonesia maju yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Momentum Peringatan Hari Ibu bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dalam pemenuhan hak perempuan dan anak, serta untuk memajukan perempuan Indonesia di masa pandemi Covid-19 dimana banyak perempuan terpuruk, menjadi korban kekerasan, bahkan harus memikul beban ganda,” ujar Giwo.

Dalam momentum Peringatan Hari Ibu ke-92, perempuan Indonesia wajib menjadi Ibu bangsa yang mengemban tanggung jawab mulia, inovatif, dan memiliki kepribadian bangsa nasionalisme, serta sehat dan jasmani.

“Mari berkolaborasi dan bersinergi mengemban amanat para founding mothers (ibu bangsa) untuk sebaik-baiknya menjadi ibu bangsa sejati. Jangan melupakan sejarah, kita harus menjalankan amanah para perempuan terdahulu yang memberikan pengorbanan luar biasa bukan hanya materi tapi juga jiwa dan raga,” ungkap Giwo.

Sependapat dengan Giwo, Pegiat Literasi, Maman Suherman menegaskan pentingnya melakukan upaya nyata untuk meluruskan kebenaran makna hari ibu dengan memanfaatkan sinergi, di antaranya melalui sosialisasi dan literasi digital kepada generasi milenial.

Maman menambahkan, sinergi dapat dilakukan dengan berbagai pihak seperti Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Perpustakaan Nasional, Siber Kreasi, dan pihak lainnya, melaui penyelenggaraan lomba reading report.

“Sangat penting bagi generasi milenial agar membaca sejarah hari ibu untuk kemudian disebarluaskan ke media massa maupun media sosial. Digitalisasi data yang terarsip di Perpustakaan Nasional juga begitu penting untuk dilaksanakan sehingga anak muda dapat mudah mengakses informasi penting tersebut,” imbuh Maman.

Maman menambahkan, hari ibu semestinya dapat menempatkan perempuan pada posisi jauh lebih terhormat.

“Pentingnya menghilangkan perilaku objektif terhadap perempuan, mereka juga merupakan subjek pembuat keputusan dalam proses pembangunan bangsa, bukan properti dalam kehidupan. Saya tegaskan bahwa berbagai persoalan terkait perempuan bukan hanya menjadi masalah perempuan saja, tapi ini masalah kemanusiaan. Jadikan perempuan sebagai mitra yang setara dengan laki laki,” tutur Maman.

Puncak Peringatan Hari Ibu ke-92 tahun ini akan dilaksanakan pada 22 Desember 2020 dengan mengusung konsep acara secara online dan offline yang terbatas dan minimalis, serta tetap menerapkan protokol kesehatan. Pelaksanaan rangkaian acara PHI Ke-92 melibatkan seluruh komponen bangsa, pemerintah, organisasi perempuan, media massa, dunia usaha, lembaga masyarakat dan juga kaum milenial. Di antaranya menghadirkan ruang dan fasilitas bagi perempuan wirausaha yang memiliki produk berorientasi pasar, pelestarian budaya, dan perlindungan lingkungan alam yang mampu bertahan serta bangkit pada masa pandemi. Selain itu, juga menyediakan ruang berbagi untuk para perempuan inspirator yang telah melakukan aksi solidaritas untuk lingkungan sekitarnya di masa pandemi Covid-19.

Di samping itu, sebagai rangkaian acara PHI ke-92, Kemen PPPA juga melaksanakan pemberian bantuan sosial bagi para perempuan pejuang Kemerdekaan RI, menetapkan Duta Perempuan dan Anak di Daerah, mengadakan Bazar Virtual dan meresmikan E-Katalog, melakukan Ziarah ke Taman Makan Pahlawan (TMP) Kalibata, melakukan berbagai publikasi PHI Ke-92 di media massa dan media sosial, melaksanakan pelatihan tentang kepemimpinan perempuan di desa dan kewirausahaan termasuk bagi perempuan penyintas korban bencana, serta melaksanakan webinar yang mengangkat berbagai topik penting terkait pemberdayaan perempuan di bidang ekonomi, kesehatan, sosial, pendidikan, politik dan pengambilan keputusan, serta yang terpenting topik terkait pemaknaan kembali PHI.(Guffe).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed