by

Menghadapi Dinamika, Kebijakan Pelayanan Lanjut Usia Berubah

-Nusantara-246 views

Gowa, JNcom – Kementerian Sosial RI melalui Direktorat Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia melakukan tugas dan fungsinya untuk meningkatkan layanan sosial bagi lanjut usia melalui program Asistensi Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia (ATENSI LU). Dalam implementasi program ATENSI LU didukung juga dengan pembentukan sistem layanan terpadu melalui SERASI (Sentra Layanan Sosial).

Dalam rangka mempersiapkan program ATENSI dan SERASI, Direktorat Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia melaksanakan kegiatan Harmonisasi Pelaksanaan RKAKL tahun 2021.

Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 9 s.d 11 November 2020 ini dilaksanakan di Balai Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia (BRSLU) “Gau Mabaji” di Gowa yang merupakan _Piloting Centrelink_ SERASI di lingkungan Direktorat Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia.

Kegiatan yang bertujuan untuk menyamakan persepsi, arah kebijakan, penyiapan anggaran dan penguatan peran Balai/Loka Lanjut Usia dalam pelaksanaan program ATENSI ini dibuka langsung oleh Direktur Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia, Andi Hanindito.

Melalui data Badan Pusat Statistik (BPS) per bulan Maret 2019, diketahui bahwa terdapat 9,60% atau sekitar 25,66 juta lansia di Indonesia. Menghadapi dinamika jumlah lansia yang terus bertambah, kebijakan dalam pelayanan rehabilitasi sosial bagi lanjut usia juga mengalami perubahan.

“Menghadapi dinamika, kebijakan dalam pelayanan lanjut usia berubah. Seluruh proses regulasi dan mekanisme disederhanakan dan bantuan untuk lanjut usia disempurnakan”, Ujar Andi.

Bantuan untuk lanjut usia kedepanya akan diberikan oleh Direktorat Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial (Ditjen Linjamsos) serta untuk bantuan pemerintah yang bersifat stimulan maupun non stimulan akan diberikan oleh Direktorat Jenderal lainnya termasuk Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial (Ditjen Rehsos).

“Kedepannya bantuan bagi lanjut usia akan diberikan oleh Ditjen Linjamsos, namun Ditjen Rehsos dapat memberikan bantuan pemerintah yang bersifat stimulan yang berasal dari APBN/APBD. Sedangkan bantuan non stimulan dapat berasal dari CSR _(Corporate social responsibility)_ atau sumber lain yg tidak mengikat”, tambah Andi.

Selain perubahan kebijakan, perubahan paradigma layanan rehabilitasi sosial lanjut usia juga didukung dengan sarana prasarana di Balai/Loka dalam menyongsong program ATENSI dan SERASI.

Untuk mewujudkan layanan yang optimal, sarana prasarana dalam Balai/Loka harus memiliki tiga poin penting yaitu ramah lingkungan, aksesible, dan Inklusif. Tiga poin tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk adanya _handramp_ , memiliki fasilitas yang baik untuk kursi roda, dan setiap gedung harus _connecting_ (bersambung) sehingga dapat memudahkan akses dan lebih nyaman di huni lansia.

Kegiatan ini diikuti oleh 45 orang peserta yang berasal dari Direktorat Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia, Balai Lansia “Gau Mabaji” di Gowa, Balai Lansia “Budi Dharma” Bekasi, dan Loka “Minaula” Kendari.

Harapan dari adanya kegiatan ini adalah adanya persamaan persepsi dalam melakukan pelayanan rehabilitasi sosial lanjut usia yang optimal sehingga terwujudnya lanjut usia yang mandiri, sejahtera dan bermartabat. (Red)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed