by

Produk UMKM Binaan KKP Tembus Pasar Malaysia dan Singapura

Bogor, JNcom – Mengenalkan ikan dengan cara yang berbeda kemudian merambah pasar mancanegara berkat pemasaran digital. Dua hal tersebut berhasil dilakukan Novvy Natalia, pemilik usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) asal Bogor, Jawa Barat.

Ketekunannya merintis “Si Cemplon”, produk olahan kentang rasa seafood miliknya membawa berkah telah menembus sejumlah gerai ritel di Ibu Kota dan masuk pasar Malaysia serta Singapura.

Novvy mengatakan, sebelum menjadi binaan KKP, sejak.kecil saya memang penyuka ikan. Jadi saya berpikir bagaimana menciptakan produk yang bukan dari ikan utuh, tapi modifikasi dari produk pertanian dengan perikanan. Bogor, Sabtu (10/10/2020).

Melalui produknya, Novvy mengaku ingin mengajarkan anak-anak untuk memakan camilan sehat rasa ikan. Pikiran tersebut terlintas setelah dia terenyuh melihat anak saudaranya yang berkebutuhan khusus, memiliki pantangan makan makanan yang mengandung gula dan monosium glukamat (MSG).

“Novvy bertekad untuk membuat makanan sehat yang bisa dikonsumsi oleh siapapun. Akhirnya saya memilih kentang yang dicampur bubuk hasil laut dan tanpa MSG, jadi aman dimakan siapa saja,” ujarnya.

Memulai usaha sejak tahun 2017, Novvy kemudian mengikuti pelatihan “UMKM Go Digital” yang digelar Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada tahun 2018. Setelah pelatihan tersebut, dia pun mulai rajin memasarkan produknya ke market place selain rutin mengikuti pameran produk UMKM.
Namun, peruntungan Novvy berubah saat memasuki pandemi Covid-19. Saat sejumlah usaha mengalami penurunan, penjualan “Si Cemplon” justru meningkat drastis.

“Awal-awal memang berat ya di (pasar) online, kita mengharapkan pecah telur saja susah bukan main. Lucunya, setelah Covid-19, akun saya justru menjadi star seller di bulan April. Bulan Juni, kenaikan (penjualan) di marketplace malah naik sampai di atas 300%,” tutur Novvy.

Kebanggaan Novvy bertambah ketika produknya juga bisa diakses oleh salah satu market place yang telah menjangkau Malaysia dan Singapura. Dia pun sering mendapat orderan dari pemasaran secara daring tersebut.

“Alhamdulillah jadi saya tetap bisa berekspansi walaupun dalam kondisi covid,” ungkapnya.

Saat ini, Novvy menggandeng 10 tetangganya untuk membentuk kelompok dan ikut berjualan produk olahan ikan.Novvy berharap, dari berjualan produk olahan ikan, orang-orang terdekatnya bisa bertahan di masa pandemi dengan memanfaatkan pasar digital.

“Peluang digital tuh besar, jadi saya sampai sekarang yakin bahwa marketplace itu salah satu sarana membuat brand kita besar. Paling tidak walaupun produknya belum laku tapi dikenal dulu brand nya,” ucapnya.

Keberhasilan “Si Cemplon” dalam pemasaran digital, dinilai bisa menjadi inspirasi bagi UMKM pengolah hasil perikanan.

Direktur Pemasaran Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Machmud memastikan, pemerintah membuka ruang pembinaan, pendampingan, promosi dan branding, serta fasilitasi pemasaran secara online terhadap UMKM di sektor KP.

“Ini tentu sebuah kabar gembira sekaligus menunjukkan bahwa peluang produk kelautan dan perikanan sangatlah besar,” ucap Machmud.

Dikatakan Machmud, sejak 19 Agustus 2020, KKP telah meluncurkan #pasarlautindonesia sebagai bagian gerakan bangga buatan Indonesia (BBI). Tujuannya adalah untuk meningkatkan kompetensi dan kapasitas usaha UMKM pengolahan hasil kelautan dan perikanan, serta mempromosikan penjualan produknya melalui e-commerce sehingga dapat diakses oleh masyarakat secara luas.

“Saat ini, sekitar 1.400 UMKM telah dipromosikan di website pasarlautindonesia.id. Rencananya, produk-produk tersebut akan disaring ke dalam tiga kategori, yaitu UMKM Binaan, UMKM Bagus dan UMKM Unggulan guna memudahkan pembinaan dan pendampingan UMKM,” imbuhnya.

“Kita berharap, produk-produk UMKM kita semakin dikenal sekaligus membangkitkan kebanggaan konsumen bahwa produk Indonesia tak kalah dengan produk negara lain,” pungkssnya.(Guffe).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed