by

Pengungkapan Kasus Aborsi Ilegal dan Tidak Sesuai Ketentuan dengan 10 Tersangka 

Jakarta, JNcom – Sub Direktorat 4 Kejahatan dengan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Subdit 4 Jatanras Direskrimum) Polda Metro Jaya berhasil mengungkap dan menangkap para pelaku kasus aborsi ilegal dan tidak sesuai ketentuan. Rabu (9/9/2020) sekitar pukul 12.00 WIB bertempat di Jl. Percetakan Negara III, Jakarta Pusat.

Kombes Pol. Drs. Yusri Yunus,  Kabid Humas Polda Metro Jaya mengatakan, berawal adanya informasi masyarakat adanya praktek aborsi atau gugurkan kandungan yang dilakukan secara ilegal. Unit 1 Subdit 4 Jatanras Dit Reskrimum Polda Metro Jaya melakukan penyelidikan dan mengamankan seorang pemilik klinik dan para pelaku praktek aborsi ilegal di Jl. Percetakan Negara III Jakarta Pusat yang berjumlah 9 Orang. Main Hall Direskrimum Polda Metro Jaya, Rabu (23/9/2020).

Modus operandinya ujar Yusri, Para pelaku melakukan kegiatan aborsi yang tidak memiliki kahlian/ disiplin ilmu bidang kedokteran spesialis kandungan dan melahirkan dan tidak memiliki izin untuk praktek kedokteran serta kegiatan kesehatan lainnya. Klinik aborsi tersebut melakukan penawarannya melalui website klinikaborsiresmi.com dan media sosial, biaya aborsi pada klinik tersebut bervariasi berdasarkan usia kandungan.

“Tim berhasil mengamankan para tersangka sebanyak 10 Orang yaitu: LA Pr (52) Pemilik Klinik, DK Lk (30) perannya dokter penindakan aborsi, NA Pr (30) perannya bagian registrasi pasien dan kasir, MM pr (38) perannya melakukan USG, YA Pr (51) perannya membantu dokter melakukan tindakan aborsi, RA Lk (52) perannya penjaga pintu klinik, LL Pr (50) perannya membantu dokter diruang tindakan aborsi, ED Lk (28) perannya cleaning service dan jemput pasien, SM Pr (62) perannya melayani pasien, RS Pr (25) perannya pasien aborsi,” ujar Yusri.

Lebih lanjut Kabid Humas Yusri Yunus mengungkapkan, Bermula, pelaku LA membuka klinik aborsi tahun 2002 sampai 2004 di daerah Raden Saleh, kemudian beroperasi kembali tahun 2017 hingga sekarang. Klinik tersebut berbentuk rumah beroperasi setiap hari Senin – Sabtu mulai pukul 07.00 – 13.00 WIB. Klinik tidak beroperasi pada Hari Minggu dan Hari Libur Nasional.

Pelaku memiliki 7 karyawan dengan upah harian sebesar Rp.250.000 per hari, untuk dokter mendapatkan bagi hasil sebesar 40% dari total pemasukan harian. Untuk calo dengan pembagian keuntungan 50:50 setiap pembayaran dari pasien yang dibawa calo. Biaya per pasien berkisar Rp.2,5 – 5 juta (tergantung usia kandungan).

Pasien rata-rata perharinya 5-10 orang dengan omset antara Rp.10 -15 juta. Keuntungan dalam sehari diperkirakan sebesar Rp.10 juta untuk 5 orang pasien aborsi.

Keuntungan dalam seminggu diperkirakan sebesar Rp.10 juta x 6 hari sebesar Rp.60 juta. sedangkan untuk jumlah pasien sebanyak 5 pasien x 6 hari adalah 30 Pasien/minggu.

Keuntungan dalam sebulan diperkirakan Rp.10 juta x 26 hari sebesar Rp.260 juta. sedangkan untuk jumlah pasien sebanyak 30 pasien/ minggu x 26 hari = 780 Pasien/bulan.

Barang bukti yang diamankan antara lain 1 set alat Sactum atau Vacum penyedot darah bakal janin, 1 set tempat tidur untuk tindakan aborsi, 1 unit alat tensi darah, 1 unit alat USG 3D, 1 unit alat sterilisasi, 1 set tabung oksigen, 1 nampan stainles, 1 nampan besi, 1 selimut warna putih garis-garis, 1  bungkus obat Amoxicillin, 1 strip obat anti nyeri Mefinal, 1 strip Vitamin Etabion, 2 buah buku pendaftaran. Para Pelaku berikut barang bukti di bawa tim untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Adapun pasal yang disangkakan, Para tersangka dikenakan Pasal 346 KUHP, diancam dengan pidana penjara paling lama 4 tahun, Pasal 348 ayat (1) KUHP, diancam dengan pidana penjara paling lama 5  tahun, Pasal 194 Jo Pasal 75 Undang-Undang RI No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp.1 miliar.(Guffe).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed