by

Indonesia Perlu Menjaga Ketahanan Energi

Jakarta, JNcom – Keinginan Presiden Jokowi untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang maju di segala bidang nampak serius. Di periode kedua kepemimpinan Jokowi bersama Ma‘aruf Amin, ada harapan besar bangkitnya ekonomi Indonesia untuk menjadi “macan ekonomi Asia” di masa mendatang.

Staf Ahli Direktur Logistic Supply Chain & lnsfrastructur Pertamina, Rifky Effendi Hardijanto berpendapat bahwa Indonesia wajib hukumnya menjaga ketahanan energi sebagai modal dalam mengerakkan roda perekonomian.

“Misalnya, di perikanan yang menjadi kebanggaan dalam menunjang laju ekonomi Indonesia, kita bangun sentra budidaya udang, itu kan butuh bensin. Atau misal kita beralih ke mobi| Iistrik, tetap butuh energi. Tanpa energi, Indonesia bisa mogok,” kata Direktur Utama Pelita Air Service ini dalam diskusi publik yang diselenggarakan oleh INDONEWSJD bekerjasama dengan Balai Sarwono bertajuk “Ekonomi Era Kabinet Indonesia Maju” di Balai Sarwono, Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (27/11/2019).

Meski tak menepis fakta bahwa membangun sebuah kilang itu mahal, namun Rifky menegaskan pentingnya mendukung rencana Jokowi membangun kilang. Oleh karena itu, ia menyarankan, dalam strategi jangka pendek, pemerintah bisa menyewa kilang yang ada di luar negeri.

“Namun untuk jangka panjang, sangat penting bagi Indonesia untuk membangun dan memiliki kilang sendiri, sebab kilang yang ada sudah tua dan merupakan peninggalan Belanda. Padahal aturannya, setiap 10 tahun satu negara harus membangun minimal 1 kilang minyak,” ungkap mantan Direktur Pemasaran PT. Pertamina Lubricant ini.

Lebih jauh Rifky menjelaskan dunia memprediksi minyak akan tetap menjadi energi primer hingga tahun 2050-an. Untuk Indonesia, berhubung kondisi nasional Indonesia sangat kompleks secara geografis, maka logistic systemnya harus massif.

“Kalau saya boleh berpesan, Pertamina kita jangan direcokin oleh kepentingan politik. Harus bebas politik. Kita harus serius urus energi kita,” ungkap Rifky.

Sementara itu, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti mengungkapkan rasa optimisme dan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ia berharap kejayaan dan kekayaan perairan Indonesia harus dikembalikan.

“Saya optimis dengan catatan semua stakeholder harus disiplin terhadap sumber daya alam agar bangsa Indonesia bebas dari tekanan ekonomi global. Kedisiplinan ini harus dibarengi dengan enforcement untuk membangun attitude,” jelas Susi.

Berbeda dari keduanya, Analis Ekonomi Politik Christianto Wibisono berbicara tentang Indonesia yang baru saja menurunkan lncremintal Capital Output Ratio (ICOR) -yaitu suatu besaran yang menunjukkan besarnya tambahan capital atau investasi baru yang dibutuhkan untuk menaikkan atau menambahkan satu unit output -6,4 ke 3,2 untuk mencapai target Kabinet Indonesia Maju.

“Pada 2014, ICOR lndonesai tercatat sebesar 5,5. Angka tersebut lumayan tinggi dibandingkan Vietnam 5,2, India 4,9 dan Malaysia 4,6 sementara Thailand 4,5 dan Filipina pada angka 3,7,” terang Chirtianto Wibisono. (red).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed