by

Mencari Solusi Bersama Melalui Konferensi Bisnis Berkelanjutan

Jakarta, JNcom – Untuk mendiskusikan faktor-faktor dibalik bisnis berkelanjutan di Indonesia, Most Valued Bussines (MVB) Indonesia kembali menggelar Konferensi Bisnis Berkelanjutan, Kamis (7/11/2019) di Jakarta dengan tema ‘Bisnis Berkelanjutan untuk Sektor-sektor Ekonomi di Indonesia’. CEO MVB, Eamonn Sadler mengatakan, kegiatan ini untuk mencari solusi bersama untuk kebaikan masyarakat dan bumi, tidak hanya mencari keuntungan semata.

Untuk diketahui, MVB merupakan sebuah organisasi independen yang berkomitmen untuk memberdayakan Keberlanjutan dan Praktik Bisnis Terbaik dengan menekankan, mendorong, dan mempublikasikan perusahaan-perusahaan yang berusaha dengan tulus untuk melakukan hal yang benar. MVB juga berperan sebagai sebuah sarana bagi perusahaan yang memiliki rasa tanggung jawab dan menjunjung tinggi etika dalam berbisnis untuk menyampaikan pesan tersebut kepada audiens masing-masing dan menjadi sebuah forum bertukar informasi dan ide antara anggota MVB. Selain itu, MVB juga memfasilitasi gagasan terkait keberlanjutan yang dicetuskan anggota MVB untuk membantu kelompok masyarakat yang kurang beruntung. Untuk menjadi bagian dari MVB, perusahaan harus menunjukkan standar tertinggi dalam tujuh nilai tambah utama, yaitu Keberlanjutan, Praktik Bisnis yang Paling Mungkin Dijalankan, Dunia Kerja yang beretika, Keselamatan dan Keamanan, Pelayanan dan Loyalitas terhadap Pelanggan, Ramah Lingkungan, dan Nilai-Nilai Perusahaan.

“Dengan menghadirkan beragam pembicara dan ahli dari lini usaha, akademisi, organisasi non-profit serta sektor pemerintahan, diharapkan dapat menyumbangkan gagasan-gagasan dan memulai pembahasan untuk dapat membuka jalan bagi perencanaan dan pengimplementasian praktik-praktik baru di Indonesia,” ujar Eamonn Sadler.

Konferensi dibagi ke dalam empat panel diskusi dengan subjek yang berbeda. Sebagai pembuka dan pemateri utama disampaikan oleh Manajer Climate Reality Project, Amanda Katili Niode. Kemudian dilanjutkan oleh CEO Supertext, Martin Jacobson.

Panel diskusi pertama dimulai dengan tema “Tantangan Utama untuk Semua Industri: Sampah, Air dan Energi dan Bagaimana Pengaruhnya Terhadap Lingkungan dan Sektor Bisnis dan Investasi secara Keseluruhan” dengan menghadirkan pembicara ahli Steve Piro (CEO & Founder Synergy Energy Solutions), Didier Perez (Presiden Direktur PT PIPA), Lastyo Lukito (Director of External Affairs The Nature Conservancy), Faiza Fauziah (Partnership & Program Development Waste4Change), Riki Frindos (Direktur Eksekutif KEHATI), dan dimoderasi oleh CEO MVB, Eamonn Sadler.

Panel kedua berlanjut dengan tema “Industri Makanan dan Minuman yang Berkelanjutan: Inovasi Produk dan Komitmen Bisnis Terhadap Program Keberlanjutan” yang disampaikan oleh Helianti Hilman (Founder JAVARA), Karyanto Wibowo (Direktur Sustainable Development of Danone-Aqua), dan Lucia Karina (Direktur Public Affairs, Communications and Sustainability Coca-Cola Amatil Indonesia).

Panel ketiga mendiskusikan “Pariwisata yang Berkelanjutan: Pentingnya Pelestarian Alam dan Pengembangan Pariwisata yang Berkelanjutan,” dibuka dengan pengenalan dan latar belakang dari pariwisata yang berkelanjutan oleh Alistair Speirs (Ketua MVB), Sufintri Rahayu (Direktur Public Relations TRAVELOKA), dan Susan Santos De Cárdenas (Presiden & CEO Society for Sustainable Tourism & Development, Inc).

Panel terakhir yang dimoderasi oleh Alistair Speirs mendiskusikan “Industri Pakaian dan Garmen yang Berkelanjutan: Meningkatnya Kebutuhan Terhadap Industri Pakaian dan Garmen yang Berkelanjutan dan Dampak Fast-Fashion Terhadap Lingkungan.” Pembicara pada sesi ini adalah Marina Chahboune (Ahli Berkelanjutan dari Closed Loop Fashion), Jessica Vilhelmson (Country Manager H&M Indonesia), Jean Pierre Seveke (Presiden Direktur Hollit International), dan David Forsgate (Chief Representative Officer ERALDA).

“Indonesia terjun lebih jauh dalam unsur keberlanjutan dan memahami pentingnya hal tersebut dalam perkembangan masa depan bangsa. Banyak sektor telah menghadapi tantangan tersebut, tapi masih banyak yang harus dilakukan. Empat tahun yang lalu masyarakat belum terlalu memperhatikan hal ini, namun sekarang unsur keberlanjutan telah menjadi topik pembicaraan umum. Untuk tahap berikutnya, pemerintah pusat harus juga fokus pada hal ini,” ujar Alistair Speirs. (red)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed