by

Mensyukuri Hidup Dimusik, Sampai Mensekolahkan Anak Ke Luar Negeri

-Nusantara-714 views

Jakarta, JNcom – Perjalanan hidup manusia terkadang sulit untuk di ungkap hanya Tuhan yang sudah menggariskan takdirnya.Sebagai mahluknya hanya berusaha dan berdoa seperti yang dituturkan seorang produser musik dan pebisni. Menurut Sunarone, ketika Allah memberikan ilmu banyak padanya, berbagai macam penberian itu dimanfaatkannya dengan baik. Kemampuan sekecil yang dia miliki itu pun termasuk ilmu.

“Tapi ada salah satu ilmu yang saya miliki, saya tekuni dari nol yaitu dimusik, di enterteiment. Ketika ada wejangan dari gurunya, wejangan dari kakek dan neneknya, bahwa ternyata hidup kamu itu dari bunyi-bunyian lek, “ujar Sunarone kepada JURNALNUSANTARA.COM, belum lama ini di Sawangan Depok.

Artinya, tambah Sunaraone bunyi-bunyian itu, tentu mengarah kebidang seni, kesenian yang akhirnya mendorongnya untuk mempelajari bidang seni hingga dewasa.”Bunyi-bunyian itu tidak pernah rugi dalam hal bisnisnya,”tuturnya.

Demikian juga dengan nilai ibadahnya, dia tidak merasa rugi karena membuat lagu religi, saat itu penyanyi Neno Warisman. Menariknya, sampai sekarang masih  lagu-lagu itu masih bisa dinikmati.

Dia mengaku, dari awal terjun dibidang seni, sangat mencintai anak-anak yaitu tadi karena untuk menjaga anak-anak. Siapapun tidak boleh membunuh karakter anak-anak. Artinya, membiarkan anak-anak itu berkembang dari kecil 7 tahun menikmati masa anak-anaknya itu. Dari dulu temannya sendiri  mempunyai program seperti itu.

Jadi, menurut Sunarone ketiga anak-anak ditanya masa anak anaknya hapal. Kalau sekarang ini seperti membunuh karakter anak. satu contoh, anak-anak sekarang nyanyikan lagu dewasa. Mereka  sudah tidak kenal lagu “Bintang Kecil”. Sejarah juga dihilangin, budi pekerti dihilangkan, Pancasila dihilangkan.

“Karena saya mencintai negara saya. Cinta Merah Putih yang saya cintai. Jati diri jangan sampai hilang. Jadi pakem-pakem itu dari dulu saya pakai, “urainya.

Dalam bidang enterteiment, dia sudah menggelutinya hampir 40 tahun. Artinya, semua pihak itu  bukan sekedar berbisnis. Tapi ada inovasi-inovasi lainnya seperti saat ini dia bisa mengajar dirumah, gratis pula.

Isterinya juga demikian, mengajar gratis, ngajar Quran Iqro. Intinya, siapa saja yang mau belajar maka diterima dengan baik. Dirumah itu bukan bicara manajemen. Artinya tidak ada masaalah. Yang diinginkan adalah anak-anak ini harus benar-benar tidak melupakan sejarah, bagaimana menyelamatkan anak bangsa.

“Makanya Warung kita ini temanya, ajang kreasi anak bangsa. Saya buat paket murah itu tentu ada alasan lain. Kita ini yang penting bisa bayar guru akan saya arahkan semaksimal.
Semoga Tuhan merestui,” harapnya.

Ada beberapa hikmah, seperti dia menelpon beberapa stasiun tv dan ternyata dimudahkan. Artinya, kalau dia diberikan kemudahan itu imbas dari dirinya dengan ikhlas memberikan kemudahan pada orang lain

“Ujungnya hanya itu doang mas. Sebenarnya intinya itu. Betul nggak Mas. Jadi istilahnya nggak muluk muluk, “terangnya.

Pendapat serupa diungkap gitaris Koesploes, Iwon Sutomo biasa di sapa Mbah Kliwon, menurutnya Sunarone ini dulu orangnya juga sempat kerja dikontraktor karena hancur maka dia balik ke bidang musik. Karena musik baginya itu merupakan anugerah. Suatu karunia yang diberikan Tuhan. Makanya dia sangat mensyukuri anugerah itu.

“Beliau ini sampai kehidupan rumah tangganya, bersyukurnya luar biasa. Beliau disiplin bangat. Kerjanya luar biasa. Beliau berangkat dari operator sampai musik sendiri, “ungkapnya

Sebenarnya media, atau sarana sekarang beda dengan dulu. Media sekarang komplit. Tapi dulu baik penyanyi atau seniman itu memiliki karakter sehingga lagu-lagunya bertahan hingga kini.

Menciptakan lagu berangkat dari jiwanya. Apalagi biasa menulis. Makanya lagu-lagu lama bertahan hingga sekarang. Hal ini akan mereka buktikan pada penampilan mereka dikota Tua pada akhir Oktober (26/10/2019) kemarin. Dibelakang layar seperti Mas Darianto, Enteng Tanamal dan lain-lainnya.

“Jadi sekali lagi, sekarang beda dengan dulu. Ibarat saya penulis. Tulisan apa saja cepat tapi beda dengan yang keluar dari jiwa kita, rasa. Artinya, mereka anak anak milenial lebih jago dari pada orang-orang dulu karena medianya komplit, sarananya,” tandas Mbah Kliwon.(han)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed